KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) kembali tertekan pada awal Oktober 2026. Arus dana asing yang masih deras keluar dari pasar saham membuat indeks sulit berbalik arah, meski sejumlah data ekonomi domestik memberikan sentimen positif. Pada perdagangan Kamis (1/10/2026), IHSG ditutup turun 1,02% atau 61,64 poin ke level 6.009,50. Dalam perdagangan intraday, IHSG bahkan sempat merosot ke level 5.973.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, tekanan terhadap IHSG masih terutama berasal dari kuatnya
foreign outflow.
Baca Juga: 5 Saham Bisa Short Selling Mulai Besok (1/10), Cek Prospeknya Kondisi tersebut membuat katalis positif dari perekonomian domestik belum mampu mengangkat pasar saham secara signifikan. "
Foreign outflow masih menjadi tekanan utama bagi IHSG," ujar Reza kepada Kontan, Kamis (1/10/2026). Di sisi domestik, surplus perdagangan Agustus 2026 sebesar US$ 3,55 miliar menjadi salah satu katalis positif. Namun, pasar juga mencermati inflasi September yang mencapai 3,28% secara tahunan (YoY). Selain arus dana asing, investor mulai mencermati sejumlah katalis yang dapat menentukan arah IHSG dalam perdagangan berikutnya. Salah satunya penerapan mekanisme
short selling yang mulai berlaku pada Kamis (1/10/2026), dengan tahap awal mencakup saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources (BUMI) Tbk, dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Perkembangan politik domestik berupa
reshuffle kabinet juga menjadi perhatian pelaku pasar. Sementara dari eksternal, fokus investor beralih ke sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, terutama indikator tenaga kerja dan inflasi. Data tersebut penting karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Transaksi Short Selling Dimulai Besok 1 Oktober 2026, Baru 2 Sekuritas & 5 Saham "Investor akan melihat dampak data ekonomi AS terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, sementara dari domestik pasar mencermati reshuffle kabinet dan implementasi short selling," jelas Reza. Dari sisi teknikal, tekanan IHSG masih terlihat setelah indeks menembus level 6.019 dan kembali bergerak di sekitar level psikologis 6.000. Indikator MACD juga masih menunjukkan momentum bearish.
Meski demikian, IHSG berpeluang memasuki fase konsolidasi di kisaran 6.000-6.200. Level support berikutnya berada di 5.854, sedangkan resistance berada pada area 6.185-6.240.
Baca Juga: Menakar Peluang Cuan dari Transaksi Saham Short Selling Reza menyebut kemampuan IHSG menembus kembali level 6.185 menjadi titik penting. Jika level tersebut berhasil dilewati, ruang untuk terjadinya
technical rebound akan kembali terbuka. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News