IHSG Tertekan, Bisnis Perusahaan Sekuritas Ikut Tergerus



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang kuartal III-2026 menekan prospek bisnis perusahaan sekuritas.

Penurunan harga saham dan minat transaksi investor berpotensi menggerus pendapatan dari komisi perdagangan, sementara aktivitas penjaminan emisi dan investasi portofolio turut menghadapi tekanan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), IHSG pada September 2026 tercatat melemah 29,79% secara year to date (ytd). Penurunan ini lebih dalam dibandingkan posisi Agustus 2026 yang tercatat melemah 24,53% ytd.


Baca Juga: IHSG Ambruk 2,59% pada Senin (12/10), Simak Pergerakan untuk Selasa (13/10)

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pelemahan IHSG berdampak langsung terhadap nilai dan frekuensi transaksi di perusahaan sekuritas.

Kondisi pasar yang tidak menentu membuat investor cenderung mengurangi aktivitas perdagangan dan menahan diri dari risiko.

"Investor cenderung mengambil sikap wait and see atau memindahkan dana ke instrumen dengan risiko lebih rendah," ujar Nafan kepada Kontan, Kamis (15/10/2026).

Koreksi harga saham secara luas juga menekan kapitalisasi pasar dan rata-rata nilai transaksi harian.

Dampaknya, pendapatan perusahaan sekuritas dari komisi transaksi atau brokerage fee berpotensi menurun seiring berkurangnya aktivitas perdagangan.

Tekanan tersebut tidak hanya terjadi pada bisnis perantara perdagangan efek. Menurut Nafan, penggunaan fasilitas margin trading juga berpotensi berkurang karena investor menghindari penggunaan dana pinjaman untuk bertransaksi di tengah volatilitas pasar.

Baca Juga: IHSG Anjlok 2,59% di Tengah Rumor Pasar Terkait Sanksi Emiten

Aktivitas penjaminan emisi atau underwriting turut menghadapi tantangan. Emiten berpotensi menunda aksi korporasi, seperti penawaran umum perdana saham (IPO) dan penerbitan obligasi, hingga kondisi pasar dinilai lebih kondusif.

Selain itu, perusahaan sekuritas yang memiliki portofolio investasi sendiri atau proprietary trading berisiko mencatatkan kerugian belum terealisasi (unrealized loss) akibat penurunan nilai wajar aset yang dimilikinya.

Untuk menjaga kinerja bisnis, Nafan menilai perusahaan sekuritas perlu mempertahankan aktivitas transaksi sekaligus memperluas diversifikasi produk.

Instrumen seperti reksadana pasar uang dan obligasi pemerintah dapat menjadi alternatif bagi investor yang menginginkan risiko relatif lebih rendah.

Perusahaan sekuritas juga perlu memperkuat edukasi investor dan menyediakan riset yang mengedepankan manajemen risiko.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Masih Tertekan pada Selasa (13/10/2026), Simak Sentimen Pemicunya

Optimalisasi platform perdagangan serta efisiensi operasional dinilai penting untuk menjaga loyalitas nasabah dan mempertahankan daya saing bisnis di tengah tekanan pasar.

Sebagai gambaran, Mirae Asset Sekuritas mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 98,08 triliun sepanjang kuartal III-2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News