KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun berjalan 2026 masih berada dalam tekanan. Namun, kondisi tersebut dinilai lebih dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik, bukan karena melemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Senior Analyst Bursa Efek Indonesia (BEI), Fikrian Naufal menjelaskan, dari sisi global, pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik, risiko inflasi, hingga arah kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama di Amerika Serikat. Ia menyoroti pentingnya jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz yang menguasai sekitar 20% distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut dinilai dapat langsung memicu tekanan inflasi global.
“Selat Hormuz itu memegang sekitar 20% jalur minyak global, jadi ketika terganggu, dampaknya langsung terasa ke inflasi global, termasuk ke Indonesia,” ujarnya dalam agenda Media Connect yang digelar PT Samuel Sekuritas Indonesia, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga: IHSG Diproyeksikan Menguat pada Perdagangan Senin (10/8), Cek Rekomendasi Sahamnya Selain itu, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga menjadi faktor penekan bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. “Yield US Treasury yang masih tinggi ini membuat dana asing cenderung kembali ke negara maju. Jadi outflow yang terjadi sekarang itu sifatnya akumulatif dari berbagai sentimen,” jelasnya. Di sisi domestik, pelaku pasar juga mencermati sejumlah faktor, mulai dari risiko fiskal, perubahan outlook lembaga pemeringkat, hingga arah kebijakan pemerintah seperti wacana ekspor satu pintu untuk komoditas strategis. Kebijakan moneter juga menjadi perhatian, di mana Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada Mei hingga Juni 2026 dengan total kenaikan 100 basis poin menjadi 5,75% guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. “BI sudah menaikkan suku bunga cukup agresif untuk menahan pelemahan rupiah. Ini langkah yang memang perlu, meskipun ada konsekuensi ke pertumbuhan,” katanya.
Baca Juga: IHSG Menguat 2,78% ke 6.409 Sepekan, Cek Saham yang Banyak Diborong Asing Sepanjang tahun berjalan, tekanan tersebut tercermin dari arus keluar dana asing (outflow) yang mencapai sekitar Rp72 triliun. IHSG juga sempat mengalami koreksi cukup dalam setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi di level 9.134,80 pada Januari 2026, sebelum turun ke kisaran 6.200-an pada akhir Juli 2026. Selain faktor global dan domestik, Fikrian juga menyinggung faktor teknikal seperti MSCI rebalancing yang turut memengaruhi pergerakan pasar. Meski demikian, ia menegaskan kondisi tersebut tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi Indonesia. “Secara fundamental, kondisi Indonesia masih sangat baik. Pertumbuhan ekonomi masih di kisaran 5%, inflasi terjaga, dan indikator perbankan seperti NPL juga relatif rendah,” ujarnya. Ketahanan tersebut juga tercermin dari cadangan devisa yang mencapai sekitar US$145,59 miliar per Juni 2026, serta stabilitas sektor keuangan yang tetap terjaga. Dari sisi korporasi, kinerja emiten juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, mayoritas perusahaan tercatat membukukan pertumbuhan laba. “Earnings perusahaan itu sebenarnya masih tumbuh. Jadi kondisi sekarang lebih ke tekanan sentimen jangka pendek, bukan karena fundamental yang memburuk,” imbuhnya.
Baca Juga: IHSG Melesat ke 6.409, Waspadai Volatilitas Rebalancing MSCI & FTSE Ia menilai, koreksi pasar saat ini justru membuat valuasi saham menjadi lebih menarik. “Kalau dilihat sekarang, harga saham sudah turun tapi kinerja laba masih bagus. Artinya secara valuasi kita sedang berada di level yang relatif diskon,” katanya. Di tengah tekanan pasar, aktivitas perdagangan di BEI justru tetap menunjukkan pertumbuhan. Hingga Juli 2026, nilai transaksi meningkat sekitar 24,6% secara year-to-date (YtD), frekuensi transaksi naik 41,9% YtD, dan volume transaksi bertambah 30,3% YtD. Jumlah investor pasar modal juga terus meningkat signifikan. Per Juli 2026, total investor tercatat mencapai 30,06 juta, naik jauh dibandingkan sekitar 3,88 juta pada 2020. Sementara jumlah investor saham meningkat menjadi 10,03 juta. Partisipasi investor ritel pun semakin dominan dalam transaksi harian, dengan kontribusi lebih dari 50%. “Ini menunjukkan market kita masih likuid di tengah volatilitas. Aktivitas investor tetap tinggi, terutama dari ritel,” jelas Fikrian.
Secara keseluruhan, ia menilai tekanan yang terjadi di pasar saham saat ini lebih bersifat jangka pendek dan dipicu sentimen eksternal. “Jadi meskipun market sempat terkoreksi cukup dalam, dari sisi fundamental ekonomi dan kinerja perusahaan sebenarnya masih cukup solid,” pungkasnya.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Pada Pekan Depan, Cermati Rekomendasi Saham Berikut Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News