KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) kembali tertekan dalam perdagangan dua hari terakhir. Praktisi pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai pelemahan IHSG merupakan kombinasi antara sentimen global yang semakin kuat dan kondisi domestik yang mendorong investor bersikap lebih defensif. "Tekanan terhadap IHSG dalam dua hari terakhir menurut saya merupakan kombinasi antara sentimen global yang semakin kuat dan faktor domestik yang membuat investor menjadi lebih defensif," kata Hendra dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).
Pada perdagangan 22 September 2026, IHSG turun 1,69% ke level 6.277,04. Setelah sempat
rebound 1,56% pada 23 September ke 6.374,91, IHSG kembali melemah 1,20% pada 24 September menjadi 6.298,61.
Baca Juga: Fed Rate Naik, Cek Prospek IHSG Hingga Akhir Tahun dan Saham Rekomendasi Analis Pada sesi pertama perdagangan 24 September, IHSG bahkan sempat terkoreksi lebih dari 1%. Menurut Hendra, sentimen global masih menjadi pemicu utama tekanan pasar. Kenaikan
yield US Treasury, penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi global menjadi sejumlah faktor yang membuat investor kembali berhati-hati. "Faktor global saat ini menjadi pemicu utama, terutama kenaikan
yield US Treasury, penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran bahwa inflasi global akan bertahan lebih tinggi," ujarnya. Yield Treasury AS tenor 10 tahun kembali menembus 5%, sementara yield tenor dua tahun berada di sekitar 4,9%. Kondisi tersebut membuat aset berdenominasi dolar AS menjadi lebih menarik dan memberikan tekanan terhadap aset emerging market, termasuk Indonesia. Di sisi domestik, pelemahan rupiah dan masih tingginya
foreign outflow turut memperbesar tekanan terhadap IHSG. Pergantian Menteri Keuangan juga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan pasar, meski Hendra tidak melihatnya sebagai penyebab tunggal koreksi.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Kembali Terkoreksi Selasa (22/9), Cermati Saham Pilihan Analis "Pergantian Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara memang sempat menimbulkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan fiskal, terutama karena pasar sensitif terhadap kredibilitas APBN, defisit dan konsistensi kebijakan," jelasnya. Namun, pemerintah melalui Menteri Keuangan baru menegaskan kesinambungan kebijakan fiskal dan target defisit 2026 sebesar 2,85% terhadap PDB. Dengan kondisi tersebut, Hendra menilai isu pergantian Menteri Keuangan lebih tepat ditempatkan sebagai faktor tambahan terhadap persepsi risiko investor. "Kenaikan
yield dan pelemahan rupiah dapat mempercepat aksi jual asing. Kondisi ini semakin relevan saat harga minyak berada di atas US$100 per barel karena pasar kembali mengkhawatirkan inflasi dan kemungkinan kebijakan moneter global yang lebih ketat atau setidaknya lebih lama bertahan ketat," paparnya. Menurut Hendra, kenaikan yield US Treasury berdampak terhadap pasar saham Indonesia karena investor global akan kembali membandingkan imbal hasil saham
emerging market dengan aset bebas risiko di Amerika Serikat. Semakin tinggi yield US Treasury, semakin besar pula
return yang diminta investor untuk menempatkan dana pada aset berisiko seperti saham Indonesia. Ketika kondisi tersebut bersamaan dengan pelemahan rupiah, investor asing menghadapi risiko dari sisi harga saham sekaligus nilai tukar.
Baca Juga: IHSG Ambles 1,69% ke 6.277, Cermati Saham Pilihan Analis untuk Rabu (23/9) Bank Indonesia sendiri menyebut kenaikan
yield Treasury AS dan harga minyak di atas US$100 per barel sebagai faktor yang memberikan tekanan terhadap rupiah. Tekanan jual asing juga menjadi perhatian. Berdasarkan data yang digunakan Hendra, hingga perdagangan 24 September 2026 investor asing telah mencatat
net sell sekitar Rp104,3 triliun di pasar reguler secara
year to date. Saham-saham big banks seperti BMRI, BBRI dan BBCA kembali menjadi sasaran jual.
Pada sesi pertama perdagangan 24 September, BMRI mencatat penjualan asing sekitar Rp237 miliar, BBRI sekitar Rp91 miliar dan TLKM sekitar Rp77 miliar. Hendra menilai pola tersebut sudah lebih dari sekadar aksi
profit taking dalam jangka pendek. "Menurut saya, pola ini lebih tepat dibaca sebagai kombinasi antara perubahan alokasi aset dan pengurangan risiko, bukan sekadar profit taking jangka pendek," katanya. Saham big banks, menurut dia, memiliki likuiditas besar sehingga lebih mudah digunakan investor asing ketika hendak mengurangi eksposur terhadap pasar Indonesia. Namun, transaksi beli asing pada sejumlah saham tertentu menunjukkan investor asing belum sepenuhnya keluar dari Indonesia.
Baca Juga: Rencana Buyback Jumbo Bikin Harga 2 Saham LQ45 Mendaki, Cek yang Menarik Dibeli? "Yang terjadi saat ini lebih menyerupai proses
defensive repositioning, yaitu mengurangi risiko pada saham-saham besar sambil mencari saham yang memiliki katalis dan fundamental lebih kuat," tutur Hendra. Pergerakan IHSG yang sempat menguat 1,56% pada 23 September sebelum kembali jatuh 1,20% pada 24 September juga menjadi perhatian. Hendra menilai penguatan tersebut belum menunjukkan perubahan tren secara fundamental.
Menurut dia, rebound tersebut lebih tepat dilihat sebaga
i technical rebound. Pasar sempat memanfaatkan kondisi
oversold untuk melakukan
bargain hunting, tetapi tekanan jual kembali muncul ketika IHSG menghadapi resistance 6.371. "Ini menunjukkan bahwa
supply masih lebih dominan daripada
demand," ujarnya. Secara teknikal, Hendra melihat level 6.230 sebagai area penting karena merupakan
previous low. Selama IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, peluang
technical rebound menuju 6.371 dan kemudian 6.447 masih terbuka. "Selama IHSG mampu bertahan di atas 6.230, masih terdapat peluang terjadinya
technical rebound kembali menuju 6.371 dan kemudian 6.447," jelasnya.