IHSG Tertekan Sentimen Global, Simak Proyeksi Indeks untuk Jumat (16/10)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi tekanan jual di tengah ketidakpastian pasar global. Kekhawatiran terhadap arah suku bunga Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya risiko geopolitik menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi sentimen investor di pasar saham domestik.

Pada perdagangan Kamis (15/10/2026), IHSG ditutup melemah 1,33% atau 79,24 poin ke level 5.863,78 dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda mengatakan, tekanan jual masih membayangi pasar saham Indonesia. Pelemahan indeks juga diikuti penurunan harga mayoritas saham, dengan tekanan jual meluas ke 592 saham.


“Dari eksternal, inflasi AS September naik menjadi 3,7% YoY, melampaui ekspektasi 3,6%, sementara inflasi inti meningkat ke 2,6%,” kata Reza kepada Kontan, Kamis (15/10/2026).

Baca Juga: Prospek Emiten Properti Masih Menantang hingga 2027, Simak Rekomendasi Sahamnya

Kenaikan inflasi AS tersebut memperkuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Jika suku bunga bertahan pada level tinggi, tekanan terhadap arus modal asing di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi berlanjut.

Sentimen negatif juga berasal dari pasar obligasi AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang menembus 5%, ditambah eskalasi geopolitik di Timur Tengah, mendorong investor untuk lebih berhati-hati dalam mengambil risiko investasi.

Reza menilai, kombinasi berbagai sentimen tersebut masih menjadi tantangan bagi pasar saham domestik.

“Kondisi ini memperkuat risiko kebijakan moneter ketat The Fed dan tekanan arus modal asing ke emerging markets,” tuturnya.

Sentimen IHSG pada Jumat (16/10/2026)

Memasuki perdagangan Jumat (16/10/2026), pelaku pasar akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan IMF–World Bank. Sikap The Fed yang lebih hawkish atau cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat berpotensi menopang dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah.

Sebaliknya, sinyal kebijakan yang lebih moderat dapat membuka peluang stabilisasi pasar keuangan, termasuk pasar saham Indonesia.

Dari kawasan Asia, data perdagangan China berpotensi menjadi sentimen penyeimbang. China mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 133,5 miliar pada September 2026, dengan pertumbuhan impor mencapai 31% secara tahunan.

Baca Juga: Rupiah Tertekan Sentimen MSCI dan Inflasi AS, Jumat (16/10) Bisa ke Rp 17.990

Peningkatan impor China berpotensi mendukung prospek perdagangan regional dan menjadi perhatian investor dalam menilai arah perekonomian Asia.

Analisis Teknikal dan Proyeksi IHSG

Dari sisi teknikal, Reza menyebut IHSG telah mengonfirmasi pola Head and Shoulders setelah menembus level neckline di 6.000. Pola tersebut mengindikasikan risiko berlanjutnya tekanan penurunan indeks.

Selain itu, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) yang masih berada di zona negatif serta posisi IHSG di bawah rata-rata pergerakan 20 hari atau moving average 20 (MA20) di level 6.133 menunjukkan bahwa tren bearish masih membayangi pergerakan indeks.

Untuk perdagangan Jumat (16/10/2026), Reza memperkirakan IHSG bergerak terbatas dengan level support di 5.745 dan resistance pada rentang 5.920–6.000.

Pelaku pasar diperkirakan masih mencermati perkembangan sentimen global serta menunggu konfirmasi teknikal dan katalis yang lebih kuat untuk menentukan arah pergerakan IHSG selanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News