KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar Modal Indonesia tertekan pada perdagangan Rabu (28/1/2026) setelah penyedia indeks global MSCI mengumumkan pembekuan sementara sejumlah perubahan terkait indeks. Kebijakan ini memicu aksi jual di pasar saham, meski di sisi lain mata uang Asia, termasuk rupiah, justru menguat mengikuti pelemahan dolar AS. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat merosot hingga 7% pada awal perdagangan, sebelum terakhir tercatat turun sekitar 5,6%. Penurunan ini menjadi yang terdalam dalam hampir 10 bulan terakhir.
MSCI menyatakan akan membekukan masuknya saham Indonesia ke dalam indeks mereka, termasuk peningkatan bobot, hingga regulator menyelesaikan sejumlah kekhawatiran investor.
Baca Juga: IHSG Naik Hari Ini (26/1), Investor Asing Jual Saham Bank Raksasa Isu yang disorot antara lain struktur kepemilikan tersembunyi serta dugaan perdagangan terkoordinasi yang dinilai dapat mendistorsi harga saham. Menanggapi hal itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut tengah berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian untuk berdiskusi dengan MSCI, khususnya terkait peningkatan transparansi data. “Indonesia praktis berada dalam masa observasi hingga Mei. Sentimen pasar cenderung negatif dalam jangka pendek, tetapi tidak ada tekanan jual paksa,” kata Manajer Investasi SGMC Capital di Singapura, Mohit Mirpuri. Di tengah tekanan pada pasar saham, rupiah justru menguat sekitar 0,2% seiring penguatan mata uang Asia lainnya. Indeks mata uang pasar berkembang versi MSCI naik 0,5% dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, melanjutkan reli untuk sesi kelima berturut-turut. Penguatan paling menonjol terjadi pada ringgit Malaysia yang melonjak 0,7% dan mencapai level tertinggi sejak Mei 2018. Sejumlah mata uang Asia lain juga mencatatkan kenaikan moderat. Pergerakan ini tak lepas dari pelemahan dolar AS yang bertahan di dekat level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Indeks dolar berada di kisaran 96,1 setelah sebelumnya turun lebih dari 1% dan menyentuh level terendah dalam empat tahun.
Baca Juga: POJK Gugatan Terbit, Perkuat Langkah OJK Bawa PUJK Bermasalah ke Ranah Hukum Tekanan terhadap dolar meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyebut nilai dolar “baik-baik saja” saat ditanya soal pelemahannya, pernyataan yang justru mendorong aksi jual lanjutan di pasar valuta asing.
Dengan kondisi tersebut, pasar keuangan kawasan bergerak berlawanan arah: saham Indonesia tertekan oleh sentimen kebijakan indeks global, sementara pasar valuta Asia mendapat angin segar dari melemahnya dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News