IHSG Turun 0,46% ke 6.213 Awal Perdagangan Senin (28/9) Pagi, Saham GOTO Anjlok 14%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka terkoreksi pada perdagangan Senin (28/9/2026), melanjutkan pelemahan yang terjadi pada pekan lalu.

Tekanan IHSG mengikuti pergerakan bursa Asia yang cenderung hati-hati di tengah kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).

Mengutip data RTI pada pukul 09.07 WIB, IHSG turun 0,46% atau 28,853 poin ke level 6.213,039.


Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 17.940 Per Dolar AS Hari Ini (28/9), Mayoritas Asia Turun

Sebanyak 379 saham tercatat melemah, 207 saham menguat, dan 160 saham stagnan. Total volume perdagangan mencapai 4,6 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 922 miliar.

Enam indeks sektoral menjadi pemberat IHSG. Pelemahan terdalam terjadi pada sektor teknologi yang tercermin dari indeks IDX-Techno sebesar 3,88%, disusul IDX-Cyclic yang turun 2,10% dan IDX-Finance melemah 0,46%.

Saham GOTO anjlok 14%

Di jajaran saham LQ45, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi salah satu pemberat utama setelah harga sahamnya anjlok 14% ke level Rp 43 per saham.

Saham PT Indosat Tbk (ISAT) juga turun 2,13% menjadi Rp 2.300, sedangkan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) terkoreksi 1,99% menjadi Rp 1.480.

Di sisi lain, sejumlah saham LQ45 masih mampu menguat. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 3% menjadi Rp 515, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menguat 1,33% ke Rp 3.050, dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) naik 1,13% menjadi Rp 6.725.

Baca Juga: Dolar AS Menguat: Ditopang Ketegangan AS-Iran dan Taruhan Hawkish The Fed Meningkat

BRI Danareksa Sekuritas menilai, pelemahan rupiah, kenaikan yield US Treasury, serta harga minyak yang masih tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik menjadi sejumlah sentimen yang membebani pasar.

Kondisi tersebut mendorong investor mengambil posisi lebih defensif, termasuk pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Harga minyak dan yield AS jadi perhatian

Bursa saham Asia bergerak hati-hati pada awal perdagangan Senin (28/9) di tengah kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi.

Investor masih mencermati ketidakpastian penyelesaian konflik AS dan Iran serta dampaknya terhadap inflasi dan arah suku bunga global.

Harga minyak Brent naik 1,6% menjadi US$ 106 per barel. Dengan kenaikan tersebut, Brent telah menguat sekitar 17% sepanjang September. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,1% menjadi US$ 93,47 per barel.

Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (28/9): Turun Rp 16.000 Jadi Rp 2.597.000 Per Gram

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran akan berlanjut pada pekan ini.

Kondisi tersebut kembali meningkatkan perhatian pasar terhadap risiko inflasi. Terbatasnya kapasitas pengolahan minyak juga mendorong harga diesel ke level tertinggi sepanjang masa dan jauh di atas harga minyak mentah.

Kenaikan harga energi berpotensi membuat inflasi bertahan lebih lama sehingga bank sentral memiliki alasan untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi.

Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 66% bagi Federal Reserve (The Fed) untuk kembali menaikkan suku bunga pada Oktober. Pelaku pasar juga telah memperhitungkan pengetatan kebijakan sekitar 90 basis poin hingga akhir tahun depan.

Tekanan juga terlihat di pasar obligasi AS. Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun naik menjadi 5,5185%, mendekati level tertinggi sejak 2004. Sepanjang September, yield Treasury 30 tahun telah meningkat 27 basis poin.

Sementara itu, yield US Treasury tenor dua tahun melonjak 55 basis poin pada periode yang sama seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Baca Juga: Bursa Asia Cenderung Hati-hati Senin (28/9), Harga Minyak dan Yield Obligasi Naik

Mark Cabana, strategist suku bunga di Bank of America, melihat masih terdapat ruang bagi harga obligasi untuk kembali tertekan seiring pasar memperkirakan suku bunga The Fed akan berada di level yang lebih tinggi.

"Repricing mungkin tidak akan berhenti sampai ada bukti jelas bahwa kondisi keuangan telah menjadi cukup ketat," kata Cabana.

Kenaikan yield obligasi AS juga meningkatkan biaya pinjaman secara global. Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi perusahaan teknologi yang tengah menggalang dana dalam jumlah besar untuk membiayai ekspansi kecerdasan buatan (AI).

Di sisi lain, kenaikan yield meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan dalam valuasi laba perusahaan sehingga berpotensi menekan valuasi saham.

Dengan kombinasi sentimen eksternal tersebut, pergerakan IHSG selanjutnya akan turut dipengaruhi perkembangan harga minyak, rupiah, yield US Treasury, serta arah kebijakan The Fed.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: