IHSG Turun 1,12% Sepekan, Investor Saham Masih Menahan Diri



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sebesar 1,12% pada perdagangan sepekan terakhir. Sedangkan sepanjang tahun ini atau jika dihitung sejak awal tahun (YTD), IHSG sudah turun 1,22%. Pada Selasa (7/3), IHSG turun 0,59% ke 6.766,76.

Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, sentimen utama IHSG pada pekan ini berasal dari pernyataan dari The Fed, Jerome Powell nanti malam di hadapan Kongres AS untuk memberi presentasi tengah tahun.

Pelaku pasar akan fokus pada pernyataan Powell mengenai kebijakan moneter AS. Pelaku pasar menunggu sinyal besaran kenaikan suku bunga yang akan diterapkan apakah sebesar 25 bps atau 50 bps. Pasalnya, tingkat inflasi AS masih bergerak di kisaran tinggi dan aktivitas usaha serta pertambahan tenaga kerja terlihat resilient


Pasar pun memperkirakan puncak suku bunga acuan AS bisa mencapai 6% tahun 2023. Prediksi terbaru ini lebih tinggi dari perkiraan awal yang cuma sekitar 5%-5,1%.

"Angka Inflasi tahun lalu sudah bikin market geger, padahal target inflasi AS mau diturunkan mendekati 2%, sementara sekarang masih 6,4% pada Januari," kata Liza. 

Baca Juga: Terus Mengalami Tekanan, Pertanda IHSG Mulai Masuk ke Fase Krisis?

Liza mengatakan perjuangan untuk meredam level inflasi AS pada 2023 masih jauh dari target The Fed. Sehingga masih terbuka potensi kenaikan suku bunga, bahkan sulit untuk turun di tahun ini.

Alhasil, terjadi capital outflow dan nilai tukar ruipah melemah ke level Rp 15.370 per dolar AS. Sementara net buy asing secara year to date (YTD) menyusut ke Rp 2,62 triliun.

Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro mengatakan, IHSG sedang minim sentimen positif. Sehingga investor lebih banyak wait and see dan menahan diri untuk bertransaksi beli lebih aktif.

Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik menjadi penghambat utama pasar. Selain itu, kenaikan suku bunga dari bank-bank sentral utama Federal Reserve, ECB, dan BoE masih membayangi. 

Selain pasar saham Indonesia, banyak pasar saham global turun dalam sebulan terakhir. Sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sedang naik beruntun yang mengindikasikan kenaikan risiko.

"Menurut saya investor saat ini lebih memilih investasi kepada safe haven assets dan instrumen yang lebih rendah volatilitasnya," kata Nico kepada Kontan.co.id, Selasa (7/3).

Baca Juga: Bursa Saham Asia Ditutup Mixed Jelang Paparan Ketua The Fed Malam Ini

Nico menyebut, investor lebih baik wait and see sebelum masuk psar saham. Investor pun perlu mencermati kondisi pasar, serta melihat waktu yang tepat untuk buy on weakness saat orang lain jual. Sehingga investor justru akan mendapat keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan saat tren penurunan harga.

Namun, investor dengan toleransi risiko rendah disarankan untuk mengalihkan dana ke kelas aset yang lebih menjanjikan di tengah ketidakpastian. Menurut Nico, pasar uang lebih menjanjikan terutama untuk kondisi pasar modal saat ini. Dia juga merekomendasikan obligasi pemerintah domestik yang masih memberi imbal hasil riil yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara kawasan. 

Investor yang ingin masuk pasar saham lebih baik memilih saham dengan prospek bisnis dan fundamental yang solid yaitu saham blue chip di sektor yang kondusif seperti emiten perbankan dan konsumen primer. Tapi perlu cermati harga yang tepat untuk masuk berdasarkan teknikal dan sentimen jangka pendek. 

Baca Juga: IHSG Melemah ke 6.766 Selasa (7/3), BBRI, BMRI, GOTO Paling Banyak Net Buy Asing

Menurut Nico, aksi profit taking yang dilakukan investor sangat wajar lantaran mendapatkan keuntungan karena pasar saham sedang volatile sehingga akan hilang kesempatan dapat harga lebih tinggi.

"Jadi masuk akal kalau investor melakukan aksi profit taking saat ini karena mereka lebih memilih memastikan keuntungan daripada tunggu dan membuat portofolio mereka rentan terhadap fluktuasi yang sangat volatile saat ini," kata Nico.

Nico merekomendasikan beli untuk beberapa saham untuk jangka panjang yaitu emiten perbankan seperti BBCA dengan target harga Rp 9.400 per saham dan support Rp 8.400 per saham, BMRI dengan target harga Rp 11.000 per saham dan support Rp 9.775 per saham, BBNI dengan target harga Rp 9.900 per saham dan harga support Rp 8.700 per saham, dan BBRI dengan target harga Rp 5.200 per saham dan support Rp 4.690 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati