IHSG Turun di Awal Tahun, Investor Bisa Berburu Saham Blue Chip Murah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski menguat di awal pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tercatat turun 2,37% sejak awal tahun. Penurunan IHSG yang kini berada di 6.688 dapat dijadikan momentum bagi investor untuk berburu diskon saham-saham dengan fundamental bagus.

Handi Erawan, Technical Analyst House of Traders Community mengatakan bahwa pasar saham yang melemah tidak selalu berarti jelek. Penurunan pasar saham justru dapat menjadi momentum untuk membeli saham-saham dengan fundamental bagus dengan harga murah.

“Beberapa saham penggerak IHSG bisa kita manfaatkan momentumnya,” kata Handi dalam Investment Talk bertema Investing in the Midst of Uncertainty yang digelar secara daring oleh D’Origin Advisory bersama IGICO, Minggu (15/1).


Baca Juga: IHSG Bakal Didorong Data Neraca Perdagangan, Ini Rekomendasi Saham pada Selasa (17/1)

Hendi menyebutkan beberapa saham pilihan di sektor perbankan atau finansial, sektor tambang logam, serta sektor teknologi yang dapat diperhatikan. Selain itu, saham-saham barang konsumsi primer (non-cyclical), barang konsumsi nonprimer (cyclical), dan infrastruktur bisa menjadi pilihan seiring semakin dekatnya momen Ramadan dan Lebaran.

“Untuk banking ada BBCA, BBRI, BBNI, BMRI, BRIS. Sektor energi/oil ada AKRA, MEDC, ELSA, RAJA. Sektor metal yakni ANTM, INCO, HRUM. Sektor teknologi perhatikan BUKA, GOTO, EMTK. Untuk sektor consumer non-cyclical, ada CPIN, JPFA, UNVR, ICBP, INDF. Consumer cyclical lihat ACES, ERAA, ASII. Infrastruktur perhatikan TOWR, JSMR, EXCL, ISAT, TLKM,” ujar Hendi. 

Adapun untuk saham-saham sektor energi terutama batubara, Handi mengungkapkan ada potensi terkoreksi karena kenaikan yang masif dalam waktu yang cepat di tahun 2022 lalu. 

Dia menambahkan bahwa Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga bilang harga komoditas di 2023 tidak akan setinggi tahun lalu. Hendi menyebut, harga saham-saham batubara akan balik ke pergerakan harga di area-area dimana mereka biasa bergerak.

Baca Juga: AS Berpotensi Resesi, Mirae Asset Tambahkan Saham MDKA & ANTM ke Top Picks Bulan Ini

Dalam kesempatan yang sama, Rully A. Wisnubroto, Senior Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai bahwa pasar modal dalam negeri sedang diuji dengan tren yang terus melemah pada dua pekan pertama 2023. Tapi dia melihat IHSG sudah mulai menguat belakangan.

Year to date-nya sudah -3%. Ini menjadi salah satu yang kurang baik atau mungkin yang paling jelek di antara bursa-bursa global lainnya,” kata Rully.

Kendati demikian, Rully mengaku kondisi tersebut tidak terlalu mengherankan. Salah satu penekan IHSG pada dua pekan pertama tahun ini karena adanya profit taking menyusul pencapaian positif IHSG sepanjang 2022 yang menguat lebih dari 4% dalam setahun. 

“Jadi tidak terlalu mengherankan kalau di awal tahun ini terjadi koreksi. Terlihat ada capital outflow di pasar domestik, yang telah terjadi juga di bulan Desember,” kata Rully.

Baca Juga: IHSG Menguat ke 6.688 Hari Ini (16/1), BIPI, SMGR, KLBF Paling Banyak Net Buy Asing

Sepanjang dua pekan pertama 2023, arus modal asing keluar pasar saham Indonesia mencapai Rp 5,2 triliun. Adapun, jika diakumulasikan sejak Desember 2022, arus modal asing keluar pasar saham Indonesia mencapai sekitar Rp 26 triliun.

Sebagaimana saham, pasar obligasi Indonesia juga sedang diuji ketangguhannya. Namun, jika pasar saham banyak dipengaruhi oleh ekspektasi, obligasi lebih dipengaruhi oleh inflasi dan suku bunga. 

“Karena ketika suku bunga naik, itu biasanya kuponnya itu akan tergerus. Jadi kalau ekspektasi ke depan mendekati peak dari kenaikan policy rate, biasanya memang impaknya sangat baik untuk obligasi,” kata Rully.

Yield SUN tenor 10 tahun pada pekan lalu tercatat sekitar 6,7%, yang sejalan dengan penurunan yield di berbagai negara di dunia. Sebagai catatan, yield US Treasury tenor 10 tahun turun ke sekitar 3,4%-3,5%.

Pada dua pekan pertama 2023, pasar obligasi Indonesia mengalami capital inflow yang merupakan lanjutan tren sejak November 2022. Sejak periode tersebut, total capital inflow ke pasar obligasi mencapai sekitar Rp 55 triliun. 

Baca Juga: IHSG Menguat di Awal Pekan, Cek Rekomendasi Teknikal ADMR, WIRG & BBKP, Selasa (17/1)

Namun, dia memperkirakan pasar obligasi ke depan akan sedikit melambat dibandingkan dengan kondisi akhir tahun lalu karena ekspektasi inflasi dan suku bunga dunia relatif lebih landai. 

“Intinya adalah ke depan ekspektasi arah suku bunga, terutama dari Fed Fund Rate itu memiliki pengaruh besar terhadap market di seluruh dunia, equity, bond market, dan juga nilai tukar.” ujar Rully

Sementara, Ady Nugraha, Co-Founder Syariah Saham, mengingatkan para investor agar jangan sampai isu resesi malah mengacaukan sistem trading atau psikologis trading. Di kondisi yang dinaungi ketidakpastian, investor sebaiknya berpedoman pada fundamental dan teknikal. 

Ady pun berbagi tips langkah sederhana money management. Pertama menetapkan level risiko per bulan (RPB) yang siap ditanggung. Kedua menentukan risk per trade (RPT) dalam setiap trading plan. Ketiga ada titik beli (TB), stop loss (SL), dan take profit (TP). Keempat menghitung range. Kelima menetapkan jumlah lotnya dan besaran modal. 

“Itu menghilangkan sifat gharar dan spekulasi, membuat kita terjaga di masa resesi yang diwarnai ketidakjelasan seperti saat ini," kata Ady.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati