Iklim Makroekonomi Diproyeksi Tetap Suportif Bagi Pasar Obligasi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja obligasi diproyeksi tetap positif pada tahun 2026. Berdasarkan data yang diolah Kontan, obligasi pemerintah mencetak return 10,54% secara month on month (mom) per Januari 2026 dan 23,19% secara year on year (yoy). 

Laras Febriany, Portfolio Manager Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengatakan, setelah melalui kondisi pertumbuhan ekonomi yang lemah di periode 2024-2025, MAMI memandang pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi membaik di 2026.

Tingkat suku bunga yang sudah lebih akomodatif diperkirakan dapat semakin memberikan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi tahun ini. 


Selain itu belanja negara diharapkan dapat menjadi motor bagi ekonomi tahun ini seiring dengan ekspektasi realisasi belanja dapat terjadi lebih cepat.

Anggaran belanja negara tumbuh 9% dalam APBN 2026, pertumbuhan tertinggi dalam tiga tahun, sehingga diperkirakan dapat menjadi faktor positif bagi ekonomi.

Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi, Prospek Emiten Tambang Tetap Menarik Jangka Panjang

“Pandangan kami iklim makroekonomi masih akan tetap suportif bagi pasar obligasi,” ujar Laras kepada Kontan, Senin (2/2/2026).  

Meski begitu Laras mengingatkan bahwa perkembangan posisi fiskal negara akan menjadi faktor yang terus menjadi perhatian bagi investor di pasar obligasi.

Ia menilai selama pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga defisit fiskal di bawah 3% sesuai undang-undang, maka sentimen di pasar akan tetap terjaga. 

“Permintaan di pasar domestik diperkirakan masih akan tetap kuat untuk menyerap kebutuhan penerbitan SBN didukung oleh peranan investor domestik di pasar SBN yang besar (kepemilikan investor domestik mencapai 86% dari total SBN) dan kebutuhan investor untuk mencari yield lebih menarik seiring tingkat suku bunga deposito perbankan yang telah turun signifikan,” jelas dia. 

Adapun, untuk mengurangi tekanan suplai di pasar domestik, menurutnya pemerintah juga dapat meningkatkan penerbitan global bond. Laras mencatat bahwa pemerintah sudah menerbitkan kangaroo bond (obligasi pemerintah dalam Dolar Australia) dan dimsum bond (obligasi pemerintah dalam Chinese Renminbi) untuk pertama kalinya di 2025 yang direspons positif oleh pasar.

“Diversifikasi pembiayaan melalui optimalisasi penerbitan global bond dapat menjadi strategi pemerintah untuk menjaga tekanan suplai SBN di pasar domestik,” imbuhnya. 

Lebih lanjut Laras mengatakan di 2026 Bank Indonesia (BI) diperkirakan dalam fase akhir siklus penurunan suku bunga. Setelah penurunan agresif di 2025, potensi penurunan suku bunga lebih lanjut diperkirakan semakin terbatas seiring dengan fokus kebijakan BI yang beralih dari pro-pertumbuhan menjadi lebih berimbang antara pertumbuhan dan menjaga stabilitas rupiah. 

Baca Juga: IHSG Anjlok Lebih dari 5% di Perdagangan Senin (2/2), Begini Kata Pandu Sjahrir

BI akan semakin fokus untuk memperkuat transmisi penurunan BI Rate terhadap suku bunga kredit pinjaman untuk mendorong sektor riil. 

“Walau demikian, kami memperkirakan BI masih dapat menurunkan suku bunga 1 kali sampai 2 kali tahun ini ke level 4,25% - 4,50% seiring dengan inflasi domestik yang masih terjaga dan ekspektasi The Fed beranjak lebih dovish,” ucap Laras.  

Laras menyebut, suku bunga di level rendah dan berpotensi untuk kembali turun, serta inflasi domestik yang terjaga harusnya menjadi kondisi yang konstruktif bagi pasar obligasi. Secara historis, indeks obligasi dapat mencatat kinerja positif pada tahun akhir siklus penurunan suku bunga seperti yang terjadi di tahun 2012, 2017, dan 2021. 

“Namun kita juga harus menjaga ekspektasi di tengah masih adanya risiko geopolitik dan perkembangan postur fiskal Indonesia,” terang Laras.

Selanjutnya: PMI Manufaktur Januari 2026 Meningkat, Kemenkeu Dorong Penguatan Iklim Usaha

Menarik Dibaca: Tatjana dan Fadi Alaydrus Jadi Perbincangan Netizen dalam Drama Tiba-Tiba Brondong

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News