KONTAN.CO.ID – LONDON. Imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang di sejumlah negara ekonomi utama dunia melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade pada Selasa (18/8/2026). Kenaikan tersebut dipicu kembali menguatnya kekhawatiran inflasi, di tengah tekanan fiskal yang membayangi sejumlah negara dengan utang pemerintah yang tinggi. Di Amerika Serikat (AS), imbal hasil obligasi Treasury tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007. Kenaikan tersebut terjadi ketika harga minyak kembali menembus US$90 per barel. Harga minyak yang telah meningkat sekitar 50% sepanjang tahun ini kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi, terutama setelah harapan tercapainya perdamaian antara AS dan Iran mulai memudar.
Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun mendekati 3%, atau mencapai level tertinggi dalam tiga dekade. Kekhawatiran inflasi serta ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada September turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi.
Baca Juga: Bantah Klaim Iran, Trump: Selat Hormuz Terbuka Sementara itu, di Eropa, imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2011. Imbal hasil obligasi Prancis mencapai level tertinggi sejak 2009, sedangkan biaya pinjaman pemerintah Inggris tenor 30 tahun mendekati level tertinggi yang dicapai pada Mei lalu, sekaligus menjadi level tertinggi sejak 1998. Perlu diketahui, ketika imbal hasil obligasi meningkat, harga obligasi bergerak turun.
Inflasi dan Utang Jadi Perhatian
Kjersti Haugland, Chief Economist DNB Carnegie, mengatakan pasar obligasi memasuki era baru dengan prospek inflasi dan suku bunga yang lebih sulit diprediksi. Menurut dia, risiko kenaikan inflasi kini lebih besar dibandingkan periode pascakrisis keuangan global yang ditandai suku bunga rendah dan inflasi yang relatif terkendali. "Hal ini terjadi bersamaan dengan tingkat utang pemerintah yang sangat tinggi di banyak negara, terutama Jepang, AS, Prancis, dan Inggris," kata Haugland. Tekanan terhadap pasar obligasi juga diperburuk oleh meningkatnya kebutuhan modal dari perusahaan teknologi besar atau AI hyperscalers yang tengah membangun pusat data berkapasitas besar. Selain itu, meningkatnya defisit anggaran dan kekhawatiran mengenai komunikasi kebijakan Federal Reserve (The Fed) di bawah Ketua baru Kevin Warsh turut meningkatkan aksi jual di pasar obligasi pemerintah. Pergerakan di pasar obligasi pemerintah memiliki dampak luas terhadap perekonomian. Obligasi pemerintah menjadi acuan bagi biaya pendanaan perusahaan maupun pinjaman lainnya, termasuk kredit pemilikan rumah atau KPR. Kenaikan biaya pinjaman juga memperketat kondisi keuangan secara umum. Kondisi tersebut berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi yang selama ini turut menopang penguatan pasar saham hingga mencapai rekor tertinggi.
Baca Juga: Broker Global Terbelah Soal Arah Suku Bunga The Fed, Ada yang Prediksi Naik Imbal Hasil Treasury AS Mendekati Level 5%
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,74%. Level tersebut menjadi perhatian karena secara historis imbal hasil 5% dapat memengaruhi sentimen pasar secara signifikan. Guy Miller, Chief Market Strategist Zurich Insurance Group, mengatakan level 5% akan menjadi titik penting bagi pasar obligasi maupun aset keuangan lainnya. "Hal ini akan sangat penting, bukan hanya bagi pasar obligasi, tetapi juga aset keuangan lainnya karena kenaikan lebih lanjut kemungkinan akan menggerus kepercayaan," kata Miller. Dia memperkirakan level tersebut berpotensi mendapat perhatian dari pemerintah AS. "Mengingat pentingnya level ini, kami kemungkinan akan melihat level tersebut dipertahankan oleh Departemen Keuangan AS," ujarnya. Sejumlah analis juga menyoroti keputusan tidak biasa Departemen Keuangan AS yang menjual euro, bukan dolar AS, dalam intervensi bersama Jepang untuk menopang yen yang melemah. Langkah tersebut dinilai dapat menunjukkan kekhawatiran pemerintah AS terhadap potensi tekanan tambahan di pasar obligasi apabila bank sentral asing harus menjual Treasury AS untuk mendapatkan dana guna mendukung mata uang masing-masing. Data Departemen Keuangan AS yang dirilis Senin menunjukkan kepemilikan asing atas Treasury AS turun pada Juni. Penurunan terutama berasal dari Jepang sebagai pemegang terbesar obligasi AS, disusul Inggris dan China. Kekhawatiran pasar juga terlihat dalam dua lelang Treasury AS terbaru. Surat utang tenor 10 tahun terjual dengan imbal hasil 4,683%, menjadi level tertinggi dalam 19 tahun. Sementara itu, lelang obligasi tenor 30 tahun mencatat imbal hasil 5,216%, atau tertinggi dalam 25 tahun.
Baca Juga: Arab Saudi Perketat Pengawasan Transfer Bank ke Uni Emirat Arab Kondisi fiskal AS juga menghadapi tekanan tambahan setelah pengembalian dana terkait tarif impor meningkat. Hal tersebut terjadi setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif darurat yang diberlakukan Presiden Donald Trump pada tahun lalu.
Obligasi Jepang Mulai Menarik Investor Domestik
Kenaikan imbal hasil obligasi Jepang juga berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pasar Treasury AS. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 30 tahun telah berada sedikit di atas 4%. Level imbal hasil tersebut mulai membuat obligasi Jepang lebih menarik bagi investor domestik. Padahal, investor Jepang selama ini merupakan salah satu pembeli besar surat utang pemerintah AS. Charu Chanana, Chief Investment Strategist Saxo Bank di Singapura, mengatakan imbal hasil obligasi Jepang kini berada pada tingkat yang jauh lebih kompetitif. Ia juga menyoroti penurunan kepemilikan Treasury AS oleh Jepang pada Juni. "Hal itu bukan berarti Jepang meninggalkan Treasury, tetapi menunjukkan bahwa Washington tidak bisa lagi berasumsi bahwa permintaan asing akan menyerap tambahan pasokan pada tingkat imbal hasil seperti sebelumnya," kata Chanana. Meski demikian, kenaikan imbal hasil juga mulai membuat obligasi kembali menarik bagi sebagian investor. Christopher Dembik, Senior Investment Adviser Pictet, mengatakan pihaknya masih mempertahankan posisi pada obligasi dengan durasi panjang dan memperkirakan aksi jual saat ini tidak akan berlangsung lama. "Kami memiliki posisi pada obligasi berdurasi panjang. Saya tidak memperkirakan aksi jual obligasi saat ini akan berlangsung lama," kata Dembik.
Tekanan Fiskal Eropa
Di Eropa, kenaikan imbal hasil obligasi juga dipengaruhi tingginya belanja pemerintah dan beban utang, terutama di Prancis dan Inggris. Kekhawatiran bahwa perubahan iklim dan cuaca ekstrem dapat meningkatkan kebutuhan belanja pemerintah turut menjadi faktor yang diperhatikan investor. Selain itu, inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan juga membuat pasar mempertahankan ekspektasi suku bunga yang relatif tinggi.
Baca Juga: Inggris Tegaskan Dukungan 100% untuk Ukraina di Tengah Ancaman Rusia Benjamin Schroeder, Senior Rates Strategist ING, mengatakan tekanan inflasi tidak hanya berasal dari kenaikan harga minyak. "Bukan hanya minyak yang menjadi perhatian, tetapi ada gambaran inflasi yang lebih luas yang membuat ECB (Bank Sentral Eropa) tetap bersikap hawkish," kata Schroeder.
Dia juga menyoroti gangguan rantai pasok di Jerman akibat gelombang panas yang menyebabkan level air Sungai Rhine turun secara ekstrem. "Selain itu, ada gangguan rantai pasok di Jerman akibat gelombang panas yang menyebabkan level air Sungai Rhine turun ke tingkat yang sangat rendah," ujarnya. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di AS, Jepang, dan Eropa menunjukkan bahwa pasar global kini menghadapi kombinasi risiko inflasi, suku bunga tinggi, kebutuhan pembiayaan pemerintah yang meningkat, serta persaingan memperoleh modal dari sektor teknologi. Jika tren tersebut berlanjut, kenaikan biaya pendanaan dapat menjadi tantangan bagi pemerintah, korporasi, hingga rumah tangga melalui meningkatnya biaya kredit. Kondisi ini pada akhirnya berpotensi memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi dan valuasi berbagai aset keuangan global.