KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) turun pada Kamis (29/10/2026) setelah data inflasi sesuai ekspektasi. Namun, pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan dan ketidakpastian belanja kecerdasan buatan (AI) membuat investor tetap berhati-hati terhadap prospek pasar. Mengutip Reuters, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 6,3 basis poin ke 4,982%. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun melemah 3,9 basis poin menjadi 5,322%, sedangkan tenor dua tahun turun 8,3 basis poin ke 4,652%.
Penurunan imbal hasil terjadi setelah data inflasi AS menunjukkan kenaikan yang sesuai perkiraan pasar.
Baca Juga: Yield US Treasury Naik Tembus 5%, Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,5% pada September 2026, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,3% pada Agustus. Di sisi lain, perekonomian AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal III-2026. Produk domestik bruto (PDB) AS tumbuh pada tingkat tahunan 3,4%, mencerminkan aktivitas ekonomi yang masih kuat. Namun, kombinasi data tersebut belum mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Investor masih memperhitungkan peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember, dengan probabilitas sekitar 83% berdasarkan perangkat CME FedWatch. Kepala Ekonom AS Jefferies, Thomas Simons, menilai pertumbuhan ekonomi yang kuat belum sepenuhnya mencerminkan kondisi konsumen yang solid. Data pendapatan dan belanja pribadi menunjukkan pengeluaran pada September cenderung melemah, sementara tingkat tabungan turun di bawah 4%.
Baca Juga: Harga Emas Tertekan, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed "Data ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar tenaga yang masih dimiliki perekonomian," ujar Simons. Kondisi tersebut membuat investor menimbang apakah pertumbuhan ekonomi yang kuat dapat bertahan di tengah tekanan terhadap daya beli dan tabungan rumah tangga. Pergerakan obligasi juga berlangsung sehari setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya. Keputusan tersebut sesuai perkiraan pasar, sementara bank sentral AS turut memberikan penilaian yang lebih positif terhadap kondisi ekonomi. Di pasar saham, tekanan muncul setelah laporan kinerja Alphabet kembali memicu kekhawatiran mengenai besarnya belanja perusahaan teknologi untuk pengembangan AI.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Menguat, Pasar Cermati Arah Suku Bunga The Fed dan Utang AS Kekhawatiran terhadap keberlanjutan investasi AI sebelumnya turut menekan saham dan mendorong perubahan pergerakan imbal hasil obligasi. Sementara itu, selisih imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dan dua tahun tercatat positif 32,8 basis poin. Indikator ini kerap digunakan investor untuk membaca ekspektasi terhadap prospek ekonomi.
Ekspektasi inflasi jangka panjang juga masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%. Berdasarkan tingkat
breakeven obligasi Treasury yang dilindungi dari inflasi (TIPS), pasar memperkirakan inflasi AS rata-rata sekitar 2,4% per tahun dalam 10 tahun mendatang.
Baca Juga: Harga Emas Melemah, Tertekan Dolar AS dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Dengan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang masih kuat, arah kebijakan The Fed tetap menjadi perhatian investor dalam menentukan strategi investasi di pasar obligasi maupun saham.