Imbal Hasil Obligasi Global Melonjak, Inflasi dan Ketegangan Iran Guncang Pasar



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pasar obligasi global mengalami tekanan tajam dalam beberapa hari terakhir seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi yang dipicu lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah, khususnya perang di Iran. 

Kenaikan inflasi ini memicu ekspektasi bahwa bank sentral di berbagai negara akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan berpotensi kembali menaikkan suku bunga.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun tercatat menyentuh level tertinggi dalam sekitar satu tahun terakhir pada akhir pekan. 


Lonjakan ini terjadi hanya dua hari setelah lelang obligasi tenor 30 tahun AS menghasilkan yield tertinggi sejak 2007, menandakan meningkatnya biaya pendanaan pemerintah di tengah tekanan pasar.

Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi AS 10 Tahun Naik di Sesi Terakhir November

Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran investor bahwa Federal Reserve AS akan terpaksa mempertahankan kebijakan ketat lebih lama untuk meredam inflasi yang kembali naik akibat guncangan harga energi.

"Dengan inflasi yang masih lengket, suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama," ujar Seth Hickle, portofolio manajer di Mindset Wealth Management. 

Ia menilai kondisi ini akan berdampak luas, mulai dari kredit rumah, pinjaman korporasi, hingga daya beli masyarakat.

Harga minyak Brent sendiri naik sekitar 4% hingga menembus di atas US$ 109 per barel, memperkuat tekanan inflasi global.

Di sisi lain, investor juga menyoroti pelemahan pasar saham yang mulai kehilangan momentum setelah reli panjang yang didorong euforia kecerdasan buatan (AI). Indeks saham utama global turun sekitar 1%–2%, sehari setelah S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi.

Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi AS Naik Kamis (12/3), Waspadai Suku Bunga Tinggi Lebih Lama

"Pasar sudah terlalu jauh berlari dan tidak cukup memperhatikan sinyal dari obligasi dan data ekonomi," kata Kenny Polcari, analis pasar di Slatestone Wealth Management.

Ekspektasi Suku Bunga Tetap Tinggi

Kenaikan imbal hasil juga tercermin dari lonjakan real yield atau imbal hasil riil (inflasi-adjusted). Yield obligasi AS berbasis Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) tenor 10 tahun naik ke 2,083%, level tertinggi sejak akhir Maret.

Menurut analis, kenaikan ini memperkuat pandangan bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan lanjutan di akhir tahun atau awal 2027.

"Ketika real yield naik, itu menandakan ekonomi belum berada dalam fase yang memungkinkan penurunan suku bunga," kata Padhraic Garvey, kepala strategi suku bunga global di ING.

Tekanan di pasar obligasi tidak hanya terjadi di AS. Imbal hasil obligasi Inggris (gilt) melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade, di tengah meningkatnya ketidakpastian politik dan tekanan terhadap pemerintah Perdana Menteri Keir Starmer.

Di kawasan Eropa, yield obligasi juga naik tajam. Obligasi Jerman dan Italia mencatat kenaikan signifikan, sementara Jepang mencatat kenaikan imbal hasil ke level tertinggi baru setelah data inflasi grosir yang lebih panas dari perkiraan, memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan.

"Ketidakstabilan politik di Inggris membuat pasar mempertanyakan keberlanjutan fiskal," ujar Eric Winograd dari AllianceBernstein. 

Ia menambahkan, kekhawatiran ini bisa merembet ke negara lain jika tekanan inflasi terus berlanjut.

Di tengah gejolak ini, investor kembali membicarakan peran bond vigilantes, istilah bagi pelaku pasar obligasi yang menekan pemerintah melalui kenaikan yield agar lebih disiplin dalam kebijakan fiskal.

Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Jepang Tembus Rekor Tertinggi Baru Sejak 1999

Meski belum sekuat era sebelumnya, fenomena ini mulai terlihat kembali, terutama di pasar Inggris dan Jepang. 

Investor menilai kombinasi inflasi tinggi, harga energi yang volatile, serta tekanan fiskal dapat memicu gelombang kenaikan yield lebih luas secara global.

"Yield global sudah berada di titik yang cukup tinggi untuk mulai menekan sentimen pasar," kata Eugene Leow, analis suku bunga senior di DBS.

Pasar obligasi kini bersiap menghadapi ujian baru berupa lelang obligasi tenor 20 tahun AS pekan depan, setelah sebelumnya sejumlah lelang menunjukkan permintaan yang lebih lemah dari perkiraan.

Dengan inflasi yang belum stabil dan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, pasar obligasi global diperkirakan akan tetap bergejolak dalam waktu dekat, dengan risiko suku bunga tinggi bertahan lebih lama dari ekspektasi sebelumnya.

TAG: