KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Imbal hasil atau
yield obligasi mengalami kenaikan, salah satunya disebabkan sentimen perang Timur Tengah dan penurunan
outlook Indonesia. Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) melihat kenaikan
yield obligasi saat ini bersifat dua arah bagi industri DPLK. Ketua Umum Asosiasi DPLK Tondy Suradiredja mengatakan
yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bergerak naik ke kisaran 6,60% per awal Maret 2026, seiring Moody's menurunkan
outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif. Dia menyebut hal itu membuat portofolio yang ada tertekan secara
mark to market. Baca Juga: Jelang Berlakunya POJK Asuransi Kesehatan, Asuransi Jiwa Terus Persiapkan Diri Namun, Tondy beranggapan kenaikan
yield 20–30 basis poin (bps) tertahan oleh kupon yang lebih kompetitif pada penempatan baru. "Dengan demikian, kami melihat kondisi tersebut sebagai momen untuk memperkuat posisi di SBN jangka menengah hingga panjang," ungkapnya kepada Kontan, Sabtu (14/3/2026). Lebih lanjut, Tondy menyampaikan total hasil investasi industri DPLK pada 2025 mencapai Rp 11 triliun di seluruh instrumen, dengan rata-rata imbal hasil aktual (net) sebesar 6,7%. Dia bilang instrumen obligasi, khususnya SBN, menjadi penopang utama mengingat porsinya yang dominan dalam portofolio industri. Untuk 2026, Asosiasi DPLK memperkirakan rata-rata imbal hasil aktual (net) berada di kisaran 6,5% hingga 6,8%, dengan pendapatan kupon SBN dan obligasi korporasi sebagai andalan. "Adapun ruang untuk
capital gain terbuka jika
yield terkoreksi, seiring meredanya tekanan geopolitik," tuturnya.
Baca Juga: BTN Akan Gelar RUPST 2026 Bulan Depan, Ini Kisi-Kisi Rasio Pembagian Dividennya Untuk strategi investasi tahun ini, Tondy mendorong penyelenggara DPLK untuk mengurangi dominasi deposito yang rata-ratanya mencapai 50,86% pada 2025, dengan diversifikasi lebih luas ke SBN, obligasi korporasi, dan saham. Penyesuaian itu perlu dilakukan karena pemilihan instrumen di DPLK menyesuaikan keinginan peserta, sehingga peningkatan literasi menjadi kunci agar peserta dapat memilih instrumen yang lebih optimal. Dalam jangka pendek, Tondy menyebut penyelenggara DPLK cenderung menjaga portofolio yang konservatif sebagai respons terhadap gejolak geopolitik dan penurunan
outlook Indonesia. Lebih jauh, dia bilang asosiasi mendorong penerapan konsep
life cycle fund yang lebih panjang, yang mana sejak peserta masuk alokasi diarahkan pada instrumen agresif untuk memaksimalkan pertumbuhan, lalu secara bertahap bergeser ke instrumen konservatif seiring mendekati masa pensiun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News