KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar obligasi menghadapi tekanan di tengah tren kenaikan suku bunga global dan tingginya imbal hasil US Treasury (UST). Senior Portfolio Manager Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Syuhada Arief mengatakan, iklim suku bunga tinggi saat ini mulai mencerminkan perubahan rezim pasar. Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menjadi kondisi normal baru, bukan sekadar bagian dari siklus sementara. Menurut Syuhada, perubahan tersebut tercermin dari revisi proyeksi suku bunga netral jangka panjang Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya 3% menjadi 3,2%.
Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,59% ke Rp 18.045 per Dolar AS pada Jumat (16/10) Siang Hingga akhir September 2026, imbal hasil UST tenor 10 tahun juga melonjak ke level 5,11%, tertinggi sejak 2007. “Setidaknya untuk saat ini, era suku bunga rendah sudah berlalu. Kita harus menyadari bahwa saat ini kita memasuki rezim di mana suku bunga yang lebih tinggi mulai menjadi
the new normal dan bukan sekadar siklus sementara,” ujar Syuhada dalam riset bulanan Seeking Alpha MAMI, Jumat (16/10/2026). Di tengah tekanan pasar obligasi global, Syuhada menilai pasar obligasi Indonesia mulai menawarkan keseimbangan yang menarik antara imbal hasil dan persepsi risiko. Sepanjang tahun berjalan hingga akhir September 2026, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun telah naik 107 bps. Namun, dalam 30 hari terakhir periode tersebut, kenaikannya hanya 14 bps, termasuk salah satu yang terendah di kawasan. Menurut Syuhada, perlambatan kenaikan imbal hasil tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar kekhawatiran dan risiko domestik telah diperhitungkan investor. Dengan demikian, pasar obligasi domestik diharapkan mulai bergerak lebih stabil. Dari sisi imbal hasil, SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 7,2%. Adapun selisih imbal hasil atau spread terhadap UST berada di sekitar 200 bps, lebih rendah dibandingkan rata-rata historis satu tahun terakhir yang sekitar 230 bps.
Baca Juga: BEI Siap Beri Bukti Reformasi ke MSCI Usai Ancaman Penurunan Status “Artinya, obligasi Indonesia saat ini mulai menawarkan keseimbangan yang menarik antara tingkat imbal hasil yang tinggi dan persepsi risiko yang tidak lagi terus memburuk,” kata Syuhada. Kendati demikian, investor tetap perlu mencermati dua risiko utama, yakni ketahanan eksternal Indonesia, khususnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Di sisi lain, kenaikan imbal hasil UST dinilai telah mencerminkan sebagian besar risiko kenaikan suku bunga global dan berpotensi melampaui tingkat yang semestinya atau
overshoot. Namun, investor tetap mencermati perkembangan inflasi AS, kebijakan fiskal, permintaan pasar terhadap UST, serta perubahan ekspektasi kebijakan The Fed. Apabila tekanan terhadap UST bertahan lebih lama, dampaknya dapat merambat ke pasar obligasi domestik melalui kenaikan premi risiko, volatilitas arus dana asing, dan tekanan terhadap rupiah. Dari sisi suku bunga, MAMI memperkirakan ruang kenaikan BI Rate secara agresif ke depan semakin terbatas. Namun, peluang penurunan suku bunga juga belum terlihat dalam waktu dekat, mengingat risiko kenaikan inflasi pangan akibat El Niño yang berpotensi berlangsung hingga dua kuartal mendatang. Di tengah kondisi tersebut, Syuhada menekankan pentingnya pengelolaan durasi secara terukur. Ketidakpastian inflasi akibat faktor geopolitik dan fenomena El Niño, serta arah kebijakan suku bunga global, membuat investor perlu mempertimbangkan keseimbangan antara potensi imbal hasil dan risiko perubahan harga obligasi.
Baca Juga: IHSG Anjlok 10,76% ke 5.233 di Sesi I Jumat (16/10), AKRA, INDY, INCO Top Losers LQ45 Untuk reksadana obligasi berdurasi pendek, Syuhada bilang investor perlu berfokus mengoptimalkan pendapatan dengan menjaga sensitivitas portofolio terhadap perubahan suku bunga tetap terkendali. Sementara itu, untuk reksadana berdurasi menengah hingga panjang, Syuhada bilang investor cenderung memprioritaskan obligasi bertenor pendek hingga menengah, termasuk area tenor sekitar tujuh tahun. Segmen tersebut dinilai menawarkan keseimbangan risiko dan potensi imbal hasil yang relatif lebih baik. Syuhada mengatakan, kenaikan imbal hasil obligasi memberikan peluang bagi investor untuk memperoleh pendapatan kupon yang lebih tinggi. Selain itu, terdapat potensi kenaikan harga obligasi apabila siklus pengetatan moneter pada akhirnya berbalik arah.
Meski demikian, Syuhada bilang MAMI tidak serta-merta menambah eksposur obligasi secara agresif. Pengelolaan durasi tetap mempertimbangkan perkembangan inflasi, likuiditas pasar, nilai tukar rupiah, serta daya tarik relatif antar segmen kurva imbal hasil. “Jika dalam jangka pendek sampai akhir tahun ini The Fed masih terus hawkish yang diikuti dengan imbal hasil UST yang juga terus merayap naik, kami akan mengevaluasinya sebagai peluang untuk menambah eksposur secara bertahap dan selektif,” jelasnya. Karena itu, bagi investor obligasi, strategi pengelolaan durasi dan pemilihan tenor secara selektif tetap menjadi perhatian utama. Di tengah imbal hasil yang tinggi, penambahan eksposur secara bertahap dapat dipertimbangkan dengan tetap memperhitungkan risiko perubahan kondisi pasar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News