Imbal Hasil SBN Berpotensi Tembus 7,8%, Ini Pemicunya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia diperkirakan masih berpotensi meningkat hingga menyentuh kisaran 7,6%-7,8%.

Tekanan tersebut dipicu oleh menyempitnya surplus perdagangan, pelebaran defisit transaksi berjalan, serta ketidakpastian terkait indeks Morgan Stanley Capital Internationa  (MSCI) yang membatasi aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan, kondisi tersebut membuat Indonesia masih membutuhkan premi risiko yang lebih tinggi untuk menarik minat investor asing.


"Dengan latar belakang ini, spread imbal hasil SBN terhadap US Treasury (UST) mungkin perlu melebar lebih jauh untuk mengompensasi investor atas tingginya risiko mata uang dan risiko negara," tutur Faiz dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).

Baca Juga: Harga Cabai Melonjak, Inflasi Oktober 2026 Diprediksi Naik Jadi 0,45%

Ia memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun akan mencapai puncaknya di kisaran 7,6%-7,8% sebelum berangsur turun menuju 7,4% pada akhir 2026. Namun, proyeksi penurunan tersebut bergantung pada asumsi Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 6,25% pada akhir tahun ini.

Menurut Irman, penurunan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau UST memang berpotensi memberikan dukungan jangka pendek bagi obligasi Indonesia dan nilai tukar rupiah. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk menghilangkan tekanan pembiayaan eksternal Indonesia.

"Penurunan sementara imbal hasil UST tidak menghilangkan tekanan pembiayaan eksternal atau kebutuhan akan premi risiko rupiah yang lebih tinggi," jelasnya.

Tekanan terhadap pasar keuangan domestik juga tidak terlepas dari perkembangan ekonomi AS. Pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam pada kuartal III-2026 tercatat mencapai 3,4% secara tahunan atau quarter-on-quarter (QoQ) annualized, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 3,2%.

Pertumbuhan tersebut menguat dibandingkan kuartal II-2026 yang sebesar 2,2%. Penguatan terutama ditopang oleh investasi swasta yang meningkat, konsumsi rumah tangga yang tetap tangguh, serta kenaikan belanja pemerintah.

Di sisi lain, tekanan inflasi AS juga belum sepenuhnya mereda. Inflasi personal consumption expenditures (PCE) inti pada September 2026 tercatat sebesar 3,1% secara tahunan, masih berada di atas target inflasi The Federal Reserve (The Fed) sebesar 2%.

Kondisi tersebut memperkuat prospek suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama atau higher for longer. Bank Danamon mempertahankan proyeksi yield UST tenor 10 tahun sebesar 5% pada akhir 2026, dengan asumsi The Fed kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang.

Baca Juga: Impor Meningkat, Surplus Neraca Dagang Diprediksi Susut Pada September 2026

Meski demikian, Irman menilai kenaikan suku bunga BI yang dilakukan lebih awal dapat membantu menstabilkan rupiah dan memulihkan kepercayaan investor.

"Kenaikan suku bunga yang dilakukan lebih awal dapat membantu menstabilkan rupiah, memulihkan kepercayaan investor, dan mengurangi premi risiko terkait nilai tukar. Dengan demikian, yield obligasi dapat kembali normal meskipun suku bunga kebijakan domestik lebih tinggi," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News