KONTAN.CO.ID - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury kembali naik pada Jumat (23/10/2026), setelah mencatat penurunan harian terbesar dalam hampir empat tahun pada sesi sebelumnya. Meski demikian, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun masih bertahan di bawah level 5% seiring kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI). Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 3,7 basis poin menjadi 4,992%.
Baca Juga: Belanja Data Center Global Diproyeksi Tembus US$ 2,1 Triliun pada 2028 Pada Kamis (22/10/2026), imbal hasil acuan tersebut anjlok 19,3 basis poin, penurunan harian terbesar sejak 10 Maret 2023, ketika otoritas menutup SVB Financial Group setelah upaya penghimpunan modal bank tersebut gagal. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan reli saham AI, yang menjadi salah satu pendorong utama kenaikan pasar saham saat ini, mendorong investor beralih ke aset yang dinilai lebih aman, termasuk obligasi pemerintah. Pergerakan ini terjadi di tengah tekanan inflasi yang masih bertahan dan harga minyak mentah yang telah melampaui US$ 100 per barel. Meski imbal hasil kembali meningkat, US Treasury tenor 10 tahun masih berada di jalur penurunan mingguan sekitar 11 basis poin. Jika bertahan hingga akhir pekan, kondisi ini akan menjadi penurunan selama tiga pekan berturut-turut, rentang terpanjang sejak Juni.
Baca Juga: Pernikahan di China Turun 7,5%, Pemerintah Berupaya Dongkrak Angka Kelahiran JoAnne Bianco, mitra sekaligus senior investment strategist di BondBloxx Investment Management, menilai imbal hasil tenor 10 tahun masih berpeluang kembali menembus 5%. Namun, tekanan inflasi dan kebutuhan pembiayaan defisit pemerintah AS menjadi faktor yang perlu dicermati investor. Menurut Bianco, ketidakpastian ekonomi, potensi peningkatan pasokan obligasi pemerintah, serta kenaikan harga energi dapat mendorong premi tenor (term premium) dan menjaga imbal hasil tetap tinggi. Dari sisi ekonomi, indeks awal aktivitas bisnis AS yang dirilis S&P Global menunjukkan indeks output komposit PMI turun menjadi 57,6 pada Oktober dari 58,4 pada September, yang merupakan level tertinggi dalam lima tahun. Meski melemah, indeks tersebut masih berada di atas ambang 50, yang menunjukkan aktivitas ekonomi masih berekspansi.
Baca Juga: Conte Bantah Negosiasi dengan Manchester United, Masa Depan Michael Carrick Disorot Sementara itu, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan pekan depan terus menyusut. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin turun menjadi 8,3%, dari 15,5% sepekan sebelumnya dan 70,9% sebulan lalu. Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun naik 2,8 basis poin menjadi 5,315%. Namun, imbal hasil tersebut masih turun hampir 13 basis poin sepanjang pekan dan berpotensi mencatat penurunan mingguan selama tiga pekan berturut-turut. Adapun imbal hasil tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, naik 4,5 basis poin menjadi 4,68%. Meski demikian, imbal hasil tersebut masih turun sekitar 5 basis poin sepanjang pekan dan berpotensi mencatat penurunan mingguan selama empat pekan berturut-turut.
Baca Juga: Bank Sentral Rusia Tahan Suku Bunga 14%, Proyeksi Inflasi 2026 Naik Selisih imbal hasil obligasi tenor 10 tahun dan dua tahun tercatat positif 30,8 basis poin. Selisih ini kerap dicermati investor sebagai salah satu indikator ekspektasi terhadap kondisi ekonomi. Di sisi lain, data University of Michigan menunjukkan indeks sentimen konsumen AS turun tipis menjadi 48 pada Oktober dari 48,1 pada September. Ekspektasi inflasi pasar juga masih menjadi perhatian. Tingkat impas inflasi (breakeven rate) obligasi
Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) tenor lima tahun berada di 2,463%, mendekati level penutupan tertinggi sejak 10 September. Sementara itu, breakeven rate tenor 10 tahun berada di 2,349%, mengindikasikan pasar memperkirakan inflasi rata-rata sekitar 2,3% per tahun selama satu dekade mendatang.