Imbas Gangguan LNG Qatar, Harga Batubara Naik 7% ke US$ 138 Per Ton



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penutupan produksi liquefied natural gas (LNG) Qatar akibat eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga gas global dan memicu kenaikan harga batubara.​

Melansir data Trading Economics harga batu bara mengalami kenaikan sebesar 7,23% ke US$ 138 per ton pada Selasa (3/3/2026) dari US$ 128 per ton pada hari sebelumnya dan 18,86% dalam sebulan terakhir. 

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan kenaikan harga batubara adalah sesuatu yang wajar karena terdapat serangan pada kilang-kilang gas Qatar.  


Senada dengan Lukman, Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai kenaikan di atas 5% dalam sehari biasanya dikategorikan anomali atau lonjakan tajam. 

Baca Juga: Pentagon Umumkan Identitas Empat Tentara AS yang Tewas dalam Perang Melawan Iran

"Namun, mengingat angka US$ 138 per ton masih jauh di bawah rekor tertinggi sejarah yang pernah menembus US$ 400 saat krisis energi 2022), level harga ini sebenarnya masih dalam rentang konsolidasi moderat untuk standar pasca-pandemi," kata Wahyu kepada Kontan pada Rabu (4/3/2026).

Menurut Wahyu, terdapat beberapa pola umum di luar isu geopolitik yang turut mempengaruhi kenaikan harga batubara. 

Pola tersebut adalah penurunan permintaan pemanas di belahan bumi utara, penurunan penggunaan batubara secara jangka panjang di Eropa, dan stok ulang untuk AC di Asia menjelang kuartal II. 

Wahyu memproyeksi harga batubara pada semester I tahun 2026 akan bergerak volatil dan cenderung menguat di kisaran US$ 120 - US$ 150 per ton. Namun, jika perang makin buruk, bisa ke level US$ 170 - US$ 200 per ton. 

Sementara itu, Lukman memperkirakan harga batubara bisa mencapai US$ 150 hingga US$ 180 per ton. Namun, tidak menutup kemungkinan harga batu bara bisa juga kembali ke US$ 100 per ton.