KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanaskan pasar global. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, disertai retaliasi lanjutan, dinilai berisiko besar mengganggu rantai pasok global serta mendongkrak harga komoditas energi. Jika eskalasi meluas dan menyeret negara-negara besar lainnya, stabilitas ekonomi dunia terancam goyah. Dewan Penasihat CILT Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pembina ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi menilai, operasi militer besar yang dilakukan AS–Israel terhadap Iran berpotensi mengganggu stabilitas politik dan ekonomi global. Dari sisi logistik, konflik ini menjadi ancaman serius bagi kelancaran rantai pasok dunia, terutama jika tidak segera tercapai perdamaian di kawasan. “Eskalasi konflik ini langsung memicu kekhawatiran atas gangguan rantai pasok logistik global yang bisa menekan ekonomi banyak negara,” kata Yukki dalam siaran pers, Minggu (1/3). Terlebih jika retaliasi Iran berujung pada blokade di Selat Hormuz, jalur distribusi utama minyak dan gas dari Timur Tengah ke berbagai belahan dunia.
Imbas Konflik Timur Tengah, Tekanan Biaya Logistik
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanaskan pasar global. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, disertai retaliasi lanjutan, dinilai berisiko besar mengganggu rantai pasok global serta mendongkrak harga komoditas energi. Jika eskalasi meluas dan menyeret negara-negara besar lainnya, stabilitas ekonomi dunia terancam goyah. Dewan Penasihat CILT Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pembina ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi menilai, operasi militer besar yang dilakukan AS–Israel terhadap Iran berpotensi mengganggu stabilitas politik dan ekonomi global. Dari sisi logistik, konflik ini menjadi ancaman serius bagi kelancaran rantai pasok dunia, terutama jika tidak segera tercapai perdamaian di kawasan. “Eskalasi konflik ini langsung memicu kekhawatiran atas gangguan rantai pasok logistik global yang bisa menekan ekonomi banyak negara,” kata Yukki dalam siaran pers, Minggu (1/3). Terlebih jika retaliasi Iran berujung pada blokade di Selat Hormuz, jalur distribusi utama minyak dan gas dari Timur Tengah ke berbagai belahan dunia.