Imbas Perang Timur Tengah, Wakil Ketua MPR Sebut Subsidi Energi Kian Melambung



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah dikhawatirkan bakal membengkakkan beban alokasi anggaran belanja negara. 

Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno menyoroti ketergantungan besar masyarakat Indonesia terhadap alokasi anggaran subsidi energi yang selama ini telah membebani keuangan pemerintah.

"Subsidi energi kita, kita ini negara yang dikenal dengan subsidi from cradle to grave subsidy, jadi dari lahir sampai masuk liang lahat, liang kubur, itu subsidi manusia Indonesia ini," ujarnya dalam acara Kompas.com Talks Reformasi Subsidi Energi, di Jakarta, Selasa (21/7/2026).


Baca Juga: Soal Jampidsus Pengganti Febrie Adriansyah, Begini Kata Sufmi Dasco

Eddy menilai estimasi beban anggaran subsidi energi tahun ini sejatinya sudah tergolong sangat fantastis bahkan sebelum gejolak perang meletus. 

"Sehingga dalam hal ini kita lihat subsidi kita besar sekali. Tadi disampaikan (subsidi) Rp 233 triliun, hitungan saya jauh lebih besar daripada itu," lanjutnya.

Eddy menuturkan, berdasarkan perhitungannya mulai dari subsidi hingga kompensasi nilai mencapai kurang lebih Rp 390 triliun sebelum permasalahan perang yang ada di Timur Tengah.

"Nah, sekarang dengan adanya permasalahan perang, tentu subsidi kita meningkat," tuturnya.

Dia bilang, peningkatan tekanan belanja subsidi energi ini dipicu oleh dua faktor utama, pertama lonjakan harga minyak dunia yang saat ini kembali mendekati level US$ 90 per barel. Kedua, lanjut dia, dari melemahnya nilai tukar rupiah 

"Jadi kita mengeluarkan rupiah lebih banyak lagi untuk membeli produk atau BBM maupun minyak mentah tersebut. Jadi dari dua hal itu saja sudah ada peningkatan," terangnya.

Atas dasar tersebut, Eddy menambahkan, tahun depan pemerintah berencana bakal menaikan subsidi energi, wabil khusus pada sektor ketenagalistrikan.

Baca Juga: UU PFII Sah, Danantara Persiapkan Mekanisme Permodalan Awal Pusat Keuangan RI

"Tahun depan untuk 2027 nanti akan ada peningkatan lagi untuk subsidi-subsidi yang lain, khususnya listrik. Kemarin kita sudah bahas juga dengan Kementerian ESDM, akan ada peningkatan kemungkinan antara bisa sampai 10-20% untuk listrik saja, belum dengan yang lain-lain," pungkasnya.

Sebagai informasi, Kementerian ESDM mengusulkan subsidi listrik dalam RAPBN 2027 sebesar Rp 113,45 hingga Rp 122,83 triliun. Nilai tersebut naik dari APBN tahun 2026 yang sebesar Rp 100,83 triliun. Adapun realisasi subsidi listrik mencapai Rp 38,34 triliun hingga Mei 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News