KONTAN.CO.ID – SABANG. Tekanan dari pernyataan lembaga
Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar keuangan Indonesia berpotensi merembet ke pasar obligasi. Kondisi ini dapat mendorong kenaikan imbal hasil atau
yield Surat Berharga Negara (SBN) demi menjaga daya tarik investasi di tengah ketidakpastian arus modal asing. Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz mengatakan, dampak langsung MSCI terhadap pasar keuangan Indonesia relatif kecil.
Baca Juga: Yield SBN Naik, Kemenkeu Terus Pantau Rencana Penerbitan Surat Utang Dampak yang lebih besar justru berasal dari efek tidak langsung, terutama apabila investor asing mengurangi kepemilikan saham domestik. Menurutnya, aksi jual investor asing di pasar saham dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing (valas) akibat arus modal keluar atau
capital outflow. Namun, besaran dampak langsung tersebut relatif terbatas. Persoalan yang lebih besar muncul ketika Indonesia membutuhkan aliran dolar AS untuk membiayai defisit transaksi berjalan atau
current account deficit (CAD). Faiz mencatat, CAD Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 3,3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Meski demikian, pihaknya memperkirakan defisit transaksi berjalan akan membaik menjadi sekitar 1,5% terhadap PDB pada akhir tahun ini. Dalam kondisi tersebut, Indonesia membutuhkan aliran modal asing untuk menopang kebutuhan pembiayaan eksternal. Ketika pasar saham tidak lagi menjadi sumber aliran modal yang dapat diandalkan, pasar obligasi menjadi salah satu tumpuan utama.
Baca Juga: Yield Tinggi, Menkeu Suahasil Sebut Penerbitan SBN Akan Cermati Kondisi Pasar "Kalau
equity tidak bisa menarik, berarti
yield-nya harus terus naik," ujar Faiz dalam agenda pelatihan wartawan Bank Indonesia (BI), Kamis (5/11/2026). Ia menjelaskan, imbal hasil obligasi domestik harus tetap menawarkan selisih atau
spread yang menarik dibandingkan US Treasury maupun obligasi global lainnya. Hal ini penting untuk menjaga daya tarik pasar obligasi Indonesia bagi investor asing. Faiz memperkirakan,
yield SBN pada tahun depan berpeluang berada di kisaran 7,2%, dengan asumsi yield US Treasury turun ke sekitar 4,2%. Menurutnya, penurunan
yield obligasi Amerika Serikat dapat memberikan ruang bagi penurunan yield domestik. Namun, Indonesia tetap perlu menjaga selisih imbal hasil agar pasar obligasinya kompetitif di mata investor global. Selain faktor MSCI, Faiz menyebut peningkatan
credit default swap (CDS) Indonesia juga dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik.
Baca Juga: Imbal Hasil SBN Berpotensi Tembus 7,8%, Ini Pemicunya Dengan demikian, perbaikan situasi geopolitik global berpotensi membantu menurunkan premi risiko Indonesia, meskipun ketidakpastian terkait MSCI masih berlangsung hingga kuartal II-2027. Ia menambahkan, perkembangan politik Amerika Serikat dan potensi meredanya konflik geopolitik turut menjadi faktor yang dapat memengaruhi pergerakan yield US Treasury dan daya tarik aset keuangan negara berkembang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News