KONTAN.CO.ID - Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional (IEA) pada Senin (13/4) mendesak negara-negara agar tidak menimbun pasokan energi serta tidak menerapkan pembatasan ekspor yang dapat memperburuk guncangan pasar energi global. Ketiga lembaga tersebut menyebut kondisi saat ini sebagai “guncangan terbesar yang pernah terjadi” terhadap pasar energi dunia. Melansir
Reuters, Kepala IEA Fatih Birol mengatakan beberapa negara saat ini menahan stok energi dan memberlakukan pembatasan ekspor. Ia meminta agar pasokan energi dapat mengalir ke pasar global. Namun, Birol tidak menyebut negara mana yang dimaksud.
“Jangan menambah masalah,” ujar Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. Georgieva menyebut dirinya sedang bertemu dengan sejumlah negara yang terdampak berat, terutama di Asia, Afrika Sub-Sahara, serta beberapa pulau di Pasifik Selatan yang khawatir soal pasokan energi. “Prinsip pertama seharusnya: jangan menerapkan pembatasan ekspor yang hanya membuat ketidakseimbangan semakin buruk,” ujarnya. Ia menambahkan, perang akan memberikan dampak lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi jika konflik berlangsung dalam waktu lama.
Blokade AS terhadap pelabuhan Iran dorong harga minyak di atas US$ 100
Pernyataan itu muncul di tengah eskalasi konflik setelah militer Amerika Serikat memulai blokade terhadap kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran pada Senin. Iran pun mengancam akan membalas dengan menyerang pelabuhan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk. Harga minyak kembali melonjak ke atas US$ 100 per barel. Hingga kini belum terlihat tanda-tanda Selat Hormuz akan segera dibuka kembali. Selat Hormuz merupakan jalur penting yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia serta gas alam cair (LNG).
Baca Juga: Kronologi Perseteruan Trump Vs Paus Leo: Dari Perang Iran hingga Foto AI Mirip Yesus IEA sebut krisis energi global terburuk sepanjang sejarah
Birol mengatakan dalam sebuah acara Atlantic Council bahwa konflik ini telah memicu gangguan energi global terburuk yang pernah terjadi. Ia menyebut lebih dari 80 fasilitas minyak dan gas di kawasan Timur Tengah telah mengalami kerusakan sejauh ini. Menurutnya, situasi sudah buruk sejak Maret, ketika beberapa kargo masih bisa dimuat, namun kondisi bisa memburuk pada bulan ini. “Skala masalahnya sangat besar, dan negara-negara akan menderita karenanya, sebagian lebih berat dari yang lain. Tapi saya bisa katakan... tidak ada negara yang kebal,” ujar Birol. Ketiga lembaga tersebut berkomitmen akan terus mengoordinasikan respons terhadap konflik di Timur Tengah, yang telah mendorong harga minyak naik sekitar 50% sejak perang dimulai pada 28 Februari. Guncangan ini juga mendorong kenaikan harga gas dan pupuk, sehingga memicu kekhawatiran mengenai ketahanan pangan serta potensi kehilangan lapangan kerja. “Kami menyadari ketika bertindak bersama, dampaknya lebih besar. Kami lebih efisien dan membantu anggota kami secara maksimal,” kata Georgieva.
IMF dan Bank Dunia akan revisi proyeksi pertumbuhan dan inflasi
Dalam pernyataan bersama, ketiga lembaga menilai situasi masih sangat tidak pasti. Bahkan jika arus pelayaran normal kembali melalui Selat Hormuz, pemulihan pasokan global komoditas strategis diperkirakan membutuhkan waktu cukup lama untuk kembali ke level sebelum konflik. IMF dan Bank Dunia juga menyebut mereka akan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan menaikkan perkiraan inflasi akibat perang. IMF dijadwalkan merilis proyeksi terbaru pada Selasa, sementara IEA akan menerbitkan laporan bulanan pasar minyak terbaru dalam waktu dekat.
Tonton: Blokade Total Iran Dimulai! Trump Klaim Hancurkan Militer & Guncang Pasar Minyak Dunia Perang ini juga menjadi bayang-bayang besar dalam pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia yang berlangsung di Washington pekan ini. Birol menyebut IEA telah melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategisnya dan siap mengambil langkah tambahan jika diperlukan. “400 juta barel itu baru 20% dari cadangan kami. Kami masih memiliki 80% di tangan,” kata Birol. “Kami menilai situasi, dan jika sudah waktunya, kami siap bertindak dan bertindak segera.”