IMF Ingatkan Indonesia untuk Jaga Defisit APBN Maksimal 3%



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mengingatkan Indonesia untuk mempertahankan disiplin fiskal dengan menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maksimal 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Krishna Srinivasan mengatakan, batas defisit fiskal tersebut merupakan jangkar penting bagi perekonomian Indonesia. 

Menurutnya, pasar keuangan turut mencermati komitmen pemerintah dalam menjaga batas defisit tersebut.


"Saya pikir batas defisit 3% merupakan jangkar yang sangat penting. Indonesia harus mempertahankannya karena pasar memang mencermati batas 3% tersebut," ujar Krishna dalam konferensi pers peluncuran laporan Regional Economic Outlook for Asia and the Pacific, Kamis (15/10/2026).

Baca Juga: Presiden Prabowo Setuju Menerima Bantuan Asing untuk Atasi Kebakaran Hutan

Krishna menilai fundamental makroekonomi Indonesia secara umum masih cukup baik. IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,1% pada 2026.

Di tengah guncangan harga energi, Krishna mengatakan Indonesia telah mengambil langkah kebijakan, termasuk pengetatan moneter dan pemberian subsidi. 

Namun, dia menekankan agar dukungan pemerintah tetap diberikan secara tepat sasaran dan tidak melampaui ruang fiskal yang tersedia.

"Kami melihat ada manfaat dari pemberian dukungan, tetapi dukungan tersebut harus diberikan dalam kerangka fiskal yang ada. Indonesia telah melakukan hal tersebut," katanya.

IMF sebelumnya juga menekankan pentingnya menjaga kehati-hatian fiskal di tengah meningkatnya risiko ekonomi global. Ketergantungan negara-negara Asia terhadap impor energi, terutama dari Timur Tengah, membuat kawasan tersebut rentan terhadap lonjakan harga minyak dan gas.

Baca Juga: KPK Masih Dalami Rencana Pemanggilan Suharyanto dalam Kasus Korupsi BNPB

Guncangan energi yang berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan inflasi sekaligus membebani pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, ruang fiskal sejumlah negara semakin terbatas setelah menghadapi berbagai guncangan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir.

Oleh karena itu, IMF mendorong negara-negara di kawasan Asia Pasifik memperkuat bantalan fiskal dan menerapkan kerangka fiskal jangka menengah yang kredibel.

Langkah tersebut diperlukan agar pemerintah tetap memiliki ruang untuk merespons guncangan ekonomi tanpa mengorbankan keberlanjutan keuangan negara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News