KONTAN.CO.ID - International Monetary Fund (IMF) resmi menyetujui paket pinjaman baru senilai US$8,1 miliar untuk Ukraina dalam skema Extended Fund Facility (EFF) berdurasi empat tahun. Dari total tersebut, sebesar US$1,5 miliar akan langsung dicairkan guna menopang stabilitas ekonomi negara yang masih dilanda perang. Program baru ini menjadi bagian penting dari paket dukungan internasional senilai US$136,5 miliar bagi Ukraina, yang pekan ini menandai tahun keempat invasi Rusia.
Baca Juga: Paramount Skydance Ungguli Netflix dalam Perburuan Warner Bros Pinjaman tersebut menggantikan program sebelumnya senilai US$15,5 miliar yang disahkan pada 2023. IMF menegaskan fasilitas ini bertujuan menjaga stabilitas makroekonomi Ukraina, memastikan pembiayaan anggaran tetap berjalan, sekaligus membantu menyelesaikan persoalan neraca pembayaran dan memulihkan kelayakan eksternal jangka menengah. Perdana Menteri Ukraina Yulia Svyrydenko menyebut, dukungan IMF sebagai bagian dari kerangka pembiayaan yang lebih luas untuk menutup defisit anggaran yang diperkirakan mencapai US$136,5 miliar dalam empat tahun ke depan. “Di tahun kelima perang skala penuh, di tengah serangan sistematis terhadap sektor energi, Ukraina memiliki jaminan dukungan finansial internasional untuk menjaga fungsi negara tetap stabil,” tulisnya melalui Telegram pada Kamis (26/2/2026) dilansir dari
Reuters. Sementara itu, laporan terbaru yang dirilis bersama oleh World Bank, European Union, United Nations dan pemerintah Ukraina memperkirakan biaya rekonstruksi negara tersebut mencapai US$588 miliar dalam satu dekade ke depan.
Baca Juga: Gelombang PHK Besar-besaran Melanda AS, Ini Daftar 17 Perusahaan yang Terdampak Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan, pinjaman ini akan memperkuat fondasi bagi rekonstruksi dan pertumbuhan pascaperang, sekaligus mendukung langkah Ukraina menuju aksesi Uni Eropa. Menurutnya, meski menghadapi tekanan berat akibat perang, otoritas Ukraina berhasil menjaga stabilitas makroekonomi, meningkatkan penerimaan domestik, serta melanjutkan reformasi penting. Program baru ini akan memperdalam reformasi struktural, termasuk pemberantasan korupsi, penanganan penghindaran pajak, reformasi pasar energi, dan penguatan infrastruktur pasar keuangan. Namun IMF mengingatkan bahwa risiko terhadap program ini “sangat tinggi” mengingat ketidakpastian yang masih luar biasa. Dari sisi ekonomi, pertumbuhan Ukraina diproyeksi melambat. IMF memperkirakan ekonomi akan tumbuh 1,8%–2,2% pada 2025 dan 1,8%–2,5% pada 2026. Meski demikian, inflasi diperkirakan turun signifikan menjadi sekitar 6,1% tahun ini, dari 12,7% pada 2025. Kesenjangan pembiayaan Ukraina pada 2026 yang diperkirakan mencapai US$52 miliar akan ditutup melalui pencairan dana IMF, dukungan Uni Eropa, pembiayaan negara-negara G7, serta bantuan bilateral.
Baca Juga: Negosiasi Nuklir Iran–AS : Ada Kemajuan Signifikan di Jenewa, Ancaman Perang Mereda? IMF juga menyebut sejumlah negara anggota termasuk Amerika Serikat, Jerman, Kanada, Inggris, dan Jepang kembali menegaskan pengakuan terhadap status “preferred creditor” IMF dan berkomitmen memastikan Ukraina mampu memenuhi kewajibannya kepada lembaga tersebut. Kelompok Kreditor Ukraina pun sepakat memperpanjang penangguhan pembayaran utang resmi bilateral hingga ketidakpastian mereda dan restrukturisasi utang definitif dapat diselesaikan. Georgieva menekankan bahwa keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada kesinambungan dukungan internasional dan komitmen kuat pemerintah Ukraina dalam menjalankan reformasi struktural yang ambisius.