IMF Minta Bank Sentral Asia untuk Tidak Bergantung pada The Fed



KONTAN.CO.ID - Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) pada hari Kamis (18/4) menyampaikan pesan penting kepada para bank sentral di Asia. IMF meminta bank-bank pusat itu untuk tidak terlalu mengikuti pandangan Bank Sentral AS atau The Fed.

Analisis IMF menunjukkan, suku bunga AS mempunyai dampak yang kuat dan cepat terhadap kondisi keuangan dan nilai tukar Asia.

"Ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan The Fed berfluktuasi dalam beberapa bulan terakhir, didorong oleh faktor-faktor yang tidak berhubungan dengan kebutuhan stabilitas harga di Asia," kata Krishna Srinivasan, direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, dikutip Reuters.


Baca Juga: Suram! IMF Wanti-Wanti Laju Pertumbuhan Ekonomi Dunia Jangka Menengah Akan Lesu

Menurunnya ekspektasi terhadap penurunan suku bunga jangka pendek oleh bank sentral AS telah mendorong penguatan dolar. Hal ini kemudian mendorong melemahnya beberapa mata uang Asia seperti yen Jepang dan won Korea Selatan.

Srinivasan menyarankan, bank sentral Asia harus fokus pada inflasi domestik dan jangan terlalu bergantung pada keputusan The Fed.

"Bank sentral Asia harus fokus pada inflasi domestik, dan menghindari pengambilan keputusan kebijakan yang terlalu bergantung pada antisipasi langkah Federal Reserve (The Fed). Jika bank sentral terlalu ketat mengikuti kebijakan The Fed, maka hal ini dapat merusak stabilitas harga di negaranya," lanjut Srinivasan.

Pesan itu sekaligus membenarkan adanya dilema yang dihadapi beberapa bank sentral Asia di tengah perubahan pasar mata uang yang dipicu oleh The Fed.

Baca Juga: Berlindung di Bawah Emas dan Dolar Amerika Serikat

"Banyak negara Asia mengalami depresiasi mata uangnya terhadap dolar, hal ini mencerminkan perbedaan suku bunga dengan AS. Ketika Anda mengalami volatilitas seperti itu, bank sentral harus fokus pada fundamental," pungkasnya.

Dalam World Economic Outlook yang dirilis awal pekan ini, IMF memperkirakan perekonomian Asia akan tumbuh sebesar 4,5% tahun ini, turun dari 5,0% tahun lalu. IMF memperkirakan kawasan ini akan tumbuh sebesar 4,3% pada tahun 2025.

IMF masih melihat perekonomian China sebagai kunci dari pertumbuhan ekonomi kawasan. Perlambatan pertumbuhan ekonomi China merupakan salah satu risiko utama terhadap prospek pertumbuhan di Asia.