IMF Prediksi Permintaan Dana Bantuan Tembus US$ 50 Miliar Imbas Perang Timur Tengah



KONTAN.CO.ID - International Monetary Fund (IMF) memperkirakan, permintaan bantuan keuangan dari negara-negara anggota dapat melonjak hingga US$ 20 miliar–US$ 50 miliar dalam waktu dekat akibat dampak perang di Timur Tengah.

Melansir Reuters Kamis (9/4/2026), Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan, konflik yang kini memasuki fase gencatan senjata sementara telah menguji ketahanan ekonomi global.

Baca Juga: Serangan Israel ke Lebanon Ancam Gencatan Senjata, Selat Hormuz Masih Tertutup


Penurunan aliran minyak dunia hingga 13% dan gas alam cair (LNG) sebesar 20% memicu guncangan pasokan yang mendorong lonjakan harga energi serta mengganggu rantai pasok global.

Dalam pernyataan menjelang pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia pekan depan, Georgieva menegaskan bahwa dampak perang memaksa IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, sebelumnya mengumumkan gencatan senjata dua pekan dengan Iran.

Namun, serangan Israel ke Lebanon masih berlanjut dan berpotensi menggagalkan upaya menuju perdamaian permanen.

“Bahkan dalam skenario terbaik, tidak akan ada kembali ke kondisi normal seperti sebelumnya,” ujar Georgieva.

Baca Juga: Selat Hormuz Nyaris Lumpuh, Lalu Lintas Kapal Anjlok di Bawah 10%

Ia mencontohkan kompleks LNG Ras Laffan di Qatar yang menyumbang sekitar 93% produksi LNG kawasan Teluk telah tutup sejak 2 Maret dan diperkirakan membutuhkan waktu tiga hingga lima tahun untuk kembali ke kapasitas penuh.

Selain itu, ketidakpastian juga membayangi jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, serta pemulihan lalu lintas udara di kawasan tersebut.

Risiko Pangan dan Rantai Pasok

Georgieva memperingatkan dampak lanjutan konflik akan berlangsung lama, mulai dari penutupan kilang minyak hingga kelangkaan produk olahan yang mengganggu sektor transportasi, pariwisata, dan perdagangan.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat (AS) Kuartal IV 2025 Direvisi Turun Jadi 0,5%

Sekitar 45 juta orang tambahan diperkirakan akan menghadapi kerawanan pangan, sehingga total populasi terdampak kelaparan global menembus lebih dari 360 juta orang.

Gangguan rantai pasok juga diprediksi berlanjut, terutama untuk komoditas penting seperti sulfur, helium untuk industri semikonduktor, dan nafta untuk plastik.

Proyeksi Pertumbuhan Dipangkas

IMF akan merilis berbagai skenario dalam laporan World Economic Outlook pekan depan, mulai dari pemulihan cepat hingga kondisi harga energi tinggi yang bertahan lama.

Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Naik Tipis, The Fed Makin Pede Tahan Suku Bunga

Bahkan dalam skenario paling optimistis, pertumbuhan ekonomi global tetap akan direvisi turun akibat kerusakan infrastruktur, gangguan pasokan, serta melemahnya kepercayaan.

Sebelumnya, IMF memproyeksikan pertumbuhan global sebesar 3,3% pada 2026 dan 3,2% pada 2027.

Imbauan Kebijakan Global

Georgieva mengingatkan negara-negara agar tidak mengambil kebijakan sepihak seperti pembatasan ekspor atau kontrol harga yang justru dapat memperburuk kondisi global.

Ia juga menekankan pentingnya respons bank sentral untuk menjaga stabilitas inflasi, termasuk opsi kenaikan suku bunga jika ekspektasi inflasi mulai tidak terkendali.

Baca Juga: Emas Menguat Seiring Dolar Melemah dan Ketegangan Timur Tengah Terus Berlanjut

Di sisi fiskal, negara diminta berhati-hati dalam memberikan stimulus berbasis utang karena dapat meningkatkan beban kebijakan moneter dan mendorong kenaikan biaya pinjaman.

IMF mencatat utang publik global diproyeksikan mencapai sekitar 100% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2029, level tertinggi sejak 1948.

Dengan kondisi tersebut, IMF menekankan pentingnya negara-negara untuk memperkuat kembali bantalan fiskal guna menghadapi guncangan ekonomi di masa mendatang.