KONTAN.CO.ID - Pertumbuhan ekonomi tercepat pada 2027 diprediksi akan didominasi negara-negara Timur Tengah, seiring perkiraan pemulihan aktivitas produksi dan ekspor energi setelah konflik Iran. Berdasarkan laporan
World Economic Outlook edisi Oktober 2026 dari
International Monetary Fund (IMF), sejumlah negara Timur Tengah diperkirakan masuk dalam jajaran ekonomi dengan pertumbuhan tertinggi. Proyeksi tersebut menunjukkan perubahan kondisi ekonomi global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada perdagangan minyak dan gas.
Baca Juga: Daftar 20 Negara Terkaya di Dunia 2026 Berdasarkan PDB per Kapita Daftar 15 Negara dengan Pertumbuhan Ekonomi Tercepat pada 2027
Berikut daftar 15 negara dengan proyeksi pertumbuhan PDB riil tertinggi pada 2027 berdasarkan data IMF Oktober 2026:
- Irak: 19%
- Qatar: 18,8%
- Kuwait: 17,1%
- Guyana: 16,8%
- Sudan: 15%
- Bahrain: 13,9%
- Uganda: 9,9%
- Arab Saudi: 7,9%
- Ethiopia: 7,8%
- Guinea: 7,8%
- Uni Emirat Arab: 7,7%
- Vietnam: 7,5%
- Rwanda: 7,2%
- India: 7%
- Kirgizstan: 7%
Irak, Qatar, dan Kuwait menjadi tiga negara dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi tertinggi. Ketiganya diperkirakan mencatatkan ekspansi PDB riil lebih dari 17% pada 2027. Dominasi negara Timur Tengah dalam daftar tersebut berkaitan dengan proyeksi pemulihan aktivitas ekonomi setelah perang Iran.
Baca Juga: Vietnam Ungguli Indonesia, Ini Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia Tenggara 2026 Pemulihan Ekonomi Timur Tengah
Tingginya proyeksi pertumbuhan Irak, Qatar, dan Kuwait pada 2027 tidak terlepas dari kontraksi ekonomi yang diperkirakan terjadi pada tahun sebelumnya. Mengutip
Visual Capitalist, IMF memproyeksikan ekonomi Irak mengalami kontraksi sebesar 16% pada 2026. Qatar dan Kuwait juga diperkirakan mengalami penyusutan ekonomi masing-masing 15,6% dan 16,7%.
Ketiga negara tersebut diperkirakan kembali meningkatkan aktivitas produksi dan ekspor energi seiring membaiknya kondisi perdagangan di kawasan. Namun, proyeksi tersebut bergantung pada pemulihan jalur pelayaran di Selat Hormuz. IMF memperkirakan aktivitas pengiriman barang melalui jalur tersebut mulai pulih secara bertahap sejak Maret 2027 dan kembali mendekati kondisi sebelum perang pada Oktober 2027.
Baca Juga: Daftar Negara dengan Penerimaan Pajak Terbesar di Dunia, Ada Indonesia?