IMF Wanti-Wanti Kondisi Keuangan Republik Kongo Memburuk



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan kondisi keuangan Republik Kongo semakin menekan stabilitas kawasan Afrika Tengah. 

Hal ini terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan, melonjaknya pembayaran utang, dan tingginya eksposur bank terhadap utang pemerintah.

“Kapabilitas Kongo untuk membayar utang kepada IMF memadai, tetapi risikonya tinggi, terutama jika harga minyak turun tajam atau pasar kredit regional tetap ketat,” kata IMF dalam laporan penilaian pasca-pembiayaan yang dirilis Senin (16/3/2026).


IMF mencatat, pertumbuhan ekonomi Republik Kongo sedikit meningkat menjadi 2,4% pada 2025 dibanding 2,1% pada 2024. Namun, lemahnya investasi publik dan gangguan pasokan energi membatasi aktivitas ekonomi yang lebih luas. 

Baca Juga: IMF: Ekonomi Dunia Lebih Tangguh dari Perkiraan, Tapi Tantangan Masih Besar

Kongo merupakan ekonomi terbesar ketiga di Komunitas Ekonomi dan Moneter Afrika Tengah (CEMAC), setelah Kamerun dan Gabon.

Neraca transaksi berjalan Kongo melebar menjadi 5,8% dari PDB, sementara utang publik naik menjadi 97,2% dari PDB pada akhir tahun lalu. Disiplin fiskal memburuk seiring lonjakan belanja, khususnya untuk barang dan jasa, yang mengurangi ruang bagi investasi dan bantuan sosial. 

Defisit primer non-hidrokarbon melebar menjadi 8,7% dari PDB non-hidrokarbon, sementara tunggakan baru baik domestik maupun eksternal menegaskan tantangan manajemen utang yang terus berjalan.

Tekanan keuangan ini mencerminkan masalah yang lebih luas di kawasan CEMAC, yang terdiri dari enam negara bergantung sumber daya alam. Keketatan likuiditas di pasar perbendaharaan regional menyulitkan refinancing utang jatuh tempo. 

Baca Juga: Nasib Pertumbuhan Global 2026: IMF Ungkap Prediksi Baru, Cek Kenaikan Proyeksi PDB

Gabon telah resmi meminta program IMF, sementara Republik Kongo berhasil menghimpun US$ 670 juta melalui penempatan pribadi pada November lalu dengan yield tinggi 13,7%, menegaskan tingginya biaya pinjaman bagi negara dengan profil fiskal lemah.

Dalam anggaran 2026, pemerintah Kongo menekankan konsolidasi fiskal dan prioritas pada investasi serta belanja sosial yang esensial. 

Meski demikian, IMF mengingatkan tekanan utang yang terus berlanjut dan tingginya kebutuhan rollover membuat negara ini rentan terhadap penurunan pemberian pinjaman oleh bank-bank regional.