KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah untuk mengimplementasikan program mandatori biodiesel 50% atau B50 diproyeksikan bakal memberikan dampak positif bagi ketahanan fiskal. Kebijakan ini dinilai mampu mempertebal kantong devisa negara melalui pengurangan volume impor bahan bakar minyak (BBM). Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai peningkatan bauran minyak sawit ini akan memperkuat pos neraca pembayaran nasional.
Namun, kalkulasi penghematan tersebut dapat terealisasi secara optimal jika kinerja ekspor komoditas kelapa sawit di pasar global tetap terjaga.
Baca Juga: Konsumsi CPO Domestik Naik, Dampak Devisa dari Implementasi B50 Perlu Dicermati "Konversi dari B35 ke B50 akan menghemat devisa negara dari impor BBM bisa sekitar Rp 50 triliun, dengan asumsi ekspor CPO tidak terganggu," ujar Wijayanto saat dihubungi oleh Kontan.co.id, Kamis (28/5/2026). Wijayanto mengungkapkan, berkurangnya ketergantungan terhadap impor energi secara langsung akan menekan defisit neraca perdagangan. Kondisi tersebut pada akhirnya menjadi katalis positif bagi pergerakan Rupiah, meski masih memerlukan bauran kebijakan pendukung lainnya. "Penghematan tersebut berpotensi memperkuat posisi neraca pembayaran. Ini positif bagi stabilitas Rupiah walau perlu didukung oleh berbagai kebijakan lain, baik moneter maupun fiskal," ungkapnya. Kendati optimistis program ini berjalan efektif bercermin pada kesuksesan B40, Wijayanto memberikan menyoroti mengenai pasokan. Pemerintah diminta menjaga keseimbangan suplai agar lonjakan konsumsi domestik tidak mengganggu stabilitas harga pangan di dalam negeri. "Tantangannya adalah jangan sampai tambahan konsumsi CPO sebanyak 5 juta - 5,5 juta tok per tahun, mempengaruhi harga minyak goreng dan penerimaan devisa ekspor dari CPO," pungkasnya.
Baca Juga: Implementasi B50 Menanti, Pertamina Beberkan Tantangan Hingga Potensi Ekses Solar Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menyatakan, program biodiesel berkontribusi nyata mengurangi impor solar. "Program biodiesel menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan pemanfaatan energi dalam negeri sekaligus mendukung transisi energi Indonesia secara bertahap dan berkelanjutan," ujarnya melalui keterangan resmi, Selasa (26/5/2026). Eniya memaparkan program ini menunjukkan capaian positif bagi penguatan ekonomi karena mampu menjaga stabilitas pasar domestik dan industri sawit nasional sejak tahun 2015. Berdasarkan data Kementerian ESDM, realisasi penyaluran B40 pada tahun 2025 tercatat mencapai 14,94 juta kiloLiter (kL) atau sekitar 95,67% dari total alokasi yang disiapkan sebesar 15,61 juta kL. Penyaluran B40 tersebut diklaim memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian dengan mencetak penghematan devisa negara yang diperkirakan mencapai sekitar Rp 133,3 triliun.
Baca Juga: B50 Berlaku 1 Juli 2026, Negara Bisa Hemat Subsidi hingga Rp 48 Triliun Selain itu, memberikan peningkatan nilai tambah Rp 20,92 triliun, menyerap 1,88 juta tenaga kerja, dan menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 39,66 juta ton CO2. “Capaian tersebut mencerminkan kontribusi biodiesel dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” tambah Eniya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News