KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri plastik dan kemasan nasional masih menghadapi tekanan biaya produksi di tengah tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku serta disrupsi rantai pasok global. Kondisi tersebut mendorong pelaku industri untuk mencari berbagai cara meningkatkan efisiensi operasional guna menjaga daya saing. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai impor plastik dan turunannya mencapai sekitar US$ 2,55 miliar pada kuartal I-2026. Sebagian besar impor tersebut berupa bahan baku yang masih dibutuhkan industri dalam negeri.
Di sisi lain, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia menunjukkan perbaikan pada Mei 2026 yang menandakan stabilisasi aktivitas operasional setelah sebelumnya mengalami kontraksi.
Baca Juga: Harga Tempe-Tahu Naik 10%, Gakoptindo Soroti Lonjakan Harga Plastik Meski demikian, tekanan terhadap industri dinilai masih cukup tinggi akibat inflasi dan gangguan rantai pasok global yang berdampak pada biaya produksi. Presiden Direktur PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (EMLI) Syah Reza mengatakan efisiensi operasional menjadi salah satu aspek yang dapat langsung dikendalikan perusahaan untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah tantangan tersebut. “Upaya efisiensi operasional menjadi salah satu fokus yang dapat langsung dikendalikan para pelaku industri. Salah satu upaya efisiensi operasional ini dapat dilakukan melalui optimalisasi pelumasan sintetis, hal ini menjadi langkah strategis dan nyata untuk meningkatkan keandalan peralatan produksi, menekan
downtime, meningkatkan efisiensi energi, menjaga stabilitas produksi, serta mengendalikan operasional secara lebih konsisten,” ujar Syah Reza dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026). Menurut dia, optimalisasi sistem pelumasan menjadi semakin penting mengingat lebih dari 60% kegagalan mesin industri disebabkan praktik pelumasan yang tidak tepat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya perawatan sekaligus mengganggu kelancaran proses produksi.
Baca Juga: Harga Plastik Melonjak, Lay's Klaim Kemasan Produk Pakai Plastik Mudah Daur Ulang EMLI mencatat penggunaan pelumas sintetis dapat memberikan sejumlah manfaat bagi industri, antara lain membantu menurunkan suhu operasional mesin hingga 8,3 derajat Celsius sehingga memperpanjang usia pakai pelumas hingga dua kali lipat. Selain itu, pelumas sintetis juga diklaim mampu menekan konsumsi energi hingga 10% sekaligus membantu memperpanjang usia peralatan produksi. Dari sisi operasional, peningkatan keandalan mesin dinilai dapat mengurangi potensi limbah dan menekan waktu paparan interaksi manusia dengan mesin dalam proses pemeliharaan. Untuk mendukung efisiensi tersebut, perusahaan juga menawarkan layanan pemantauan dan analisis pelumas melalui Mobil Lubricant Analysis (MLA) serta layanan MACHINEXT yang ditujukan untuk membantu industri memantau kondisi peralatan secara lebih akurat. Menurut Syah, integrasi antara penggunaan pelumas dan sistem pemantauan yang tepat dapat membantu perusahaan menjaga stabilitas produksi sekaligus mengendalikan biaya operasional dalam jangka panjang.
Baca Juga: Usai Krakatau Osaka, PHK Bisa Meluas ke Industri Semen, Tekstil hingga Plastik "Optimalisasi penggunaan pelumas yang didukung oleh sistem pemantauan dan manajemen yang tepat akan menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi biaya dan stabilitas produksi di masa depan," ujarnya. Ia menambahkan, peningkatan efisiensi operasional akan menjadi salah satu faktor penting bagi industri plastik dan kemasan untuk mempertahankan daya saing di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tingginya biaya produksi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News