Impor Bahan Baku/Penolong Melonjak, Manufaktur RI Menguat Pada Februari 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, kinerja impor pada Januari 2026 mencapai US$ 21,20 miliar, atau meningkat 18,21% year on year (yoy) bila dibandingkan periode sama tahun lalu.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono membeberkan, berdasarkan penggunaannya, impor pada periode tersebut didorong oleh impor bahan baku/penolong.

Impor bahan baku/penolong yang mencapai US$ 14,88 miliar atau meningkat 14,57% yoy, dengan andil peningkatan sebesar 10,61% yoy.


“Peningkatan nilai impor secara tahunan utamanya didorong oleh impor bahan baku/penolong,” tutur Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/3/2026).

Baca Juga: Eskalasi Timur Tengah, Komnas Haji Desak Pemerintah Jamin Keamanan Jemaah Umrah

Adapun komoditas lainnya yakni impor barang modal mencapai US$ 4,49 miliar atau naik 35,23% yoy, dan impor konsumsi mencapai US$ 1,84 miliar atau naik 11,81% yoy.

Sebagaimana diketahui, kinerja impor bahan baku yang meningkat tersebut sejalan dengan data manufaktur Indoensia yang menunjukkan penguatan pada Februari 2026.

Data terbaru yang dirilis oleh S&P Global mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke level 53,8, dari 52,6 pada Januari 2026. Angka ini menjadi posisi tertinggi dalam hampir dua tahun dan menandakan ekspansi yang semakin solid.

Peningkatan PMI terutama didorong oleh lonjakan permintaan baru yang memicu kenaikan produksi paling kuat sejak awal 2024. Permintaan tercatat tumbuh selama tujuh bulan berturut-turut, seiring bertambahnya pelanggan serta membaiknya tingkat kepercayaan bisnis.

Dalam laporan tersebut disebutkan, kenaikan penjualan tidak hanya berasal dari pasar domestik, tetapi juga dari luar negeri. Pesanan ekspor baru meningkat untuk pertama kalinya dalam enam bulan, bahkan mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.

Baca Juga: BPS Perkirakan Luas Panen Padi Mencapai 3,92 Juta Ha Pada Februari-April 2026

“Kondisi permintaan menunjukkan tren positif, dengan penjualan yang meningkat cukup kuat sehingga mendorong kenaikan produksi, ketenagakerjaan, dan aktivitas pembelian. Terlebih lagi, kenaikan permintaan tidak terbatas pada klien domestik saja, karena ekspor naik untuk pertama kali dalam enam bulan," ujar Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).

Kondisi ini mendorong perusahaan meningkatkan kapasitas produksi dan menambah tenaga kerja. Ketenagakerjaan naik enam kali dalam tujuh bulan terakhir, sementara output manufaktur tumbuh pada laju tercepat sejak April 2024.

Selain itu, perusahaan juga meningkatkan aktivitas pembelian input guna mengantisipasi permintaan yang diperkirakan tetap kuat. Pembelian bahan baku pada Februari menjadi yang paling tajam sejak Maret 2024.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News