KONTAN.CO.ID - Perang Iran turut mengguncang pasar energi global, termasuk pasar batubara termal Asia. Meski dampaknya tidak sebesar pada minyak mentah dan gas alam cair (LNG), impor serta harga batubara termal di Asia tercatat naik signifikan hingga menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Nikkei Jepang Tembus 65.000 untuk Pertama Kali, Pasar Sambut Optimisme Damai Iran Mengutip
Reuters pada Senin (25/5/2026), kenaikan harga batubara tidak hanya dipicu konflik Iran, tetapi juga melemahnya produksi domestik China dan perubahan regulasi ekspor batubara di Indonesia. Data perusahaan analis komoditas Kpler menunjukkan impor batubara termal Asia melalui jalur laut diperkirakan mencapai 76,26 juta ton pada Mei 2026. Angka tersebut naik 23% dibanding April dan lebih tinggi dari realisasi Mei tahun lalu sebesar 72,83 juta ton. Kenaikan impor terjadi hampir di seluruh negara pembeli utama di Asia. China, sebagai importir batubara terbesar dunia, diperkirakan mencatat impor batubara termal sebesar 22,63 juta ton pada Mei 2026.
Baca Juga: Harga Emas Spot Tembus US$ 4.570 Senin (25/5), Pasar Pantau Langkah Trump soal Iran Jumlah itu meningkat dibandingkan April yang sebesar 16 juta ton dan menjadi yang tertinggi sejak Januari. Permintaan impor China meningkat seiring melemahnya produksi domestik. Produksi batubara China pada April tercatat 385,63 juta ton, turun tajam dibanding rekor produksi Maret sebesar 440,62 juta ton dan lebih rendah 1% dibanding periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif, produksi batubara China selama empat bulan pertama 2026 turun 0,1% menjadi 1,58 miliar ton. Di sisi lain, pembangkit listrik tenaga termal berbasis batubara di China justru meningkat 3,6% pada periode yang sama. Kondisi ini membuat keseimbangan pasokan dan permintaan batubara domestik semakin ketat sehingga mendorong kenaikan impor.
Baca Juga: Kapal Angkut Minyak Timteng Mulai Tinggalkan Selat Hormuz, Tujuan China dan Pakistan Tekanan terhadap pasokan juga berpotensi bertambah setelah kecelakaan tambang batubara terburuk dalam 17 tahun terakhir terjadi di Provinsi Shanxi pekan lalu yang menewaskan 82 orang. Pemerintah China diperkirakan akan memperketat inspeksi keselamatan tambang batubara termal maupun kokas. Meningkatnya permintaan China turut mengangkat harga batubara Indonesia. Argus menilai harga batubara Indonesia dengan kandungan energi 4.200 kilokalori per kilogram mencapai US$ 64,43 per ton pada pekan hingga 22 Mei 2026. Harga tersebut menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir dan naik 42% sejak akhir tahun lalu. Sementara itu, impor batubara termal India diperkirakan mencapai 13,78 juta ton pada Mei 2026, tertinggi sejak Juni tahun lalu dan naik 7,3% dibanding April sebesar 12,84 juta ton. Gelombang panas di India yang mendorong permintaan listrik ke level rekor turut meningkatkan kebutuhan pembangkit listrik berbasis batubara.
Baca Juga: Tiga Pekerja Tewas dalam Insiden Lifeboat di Kapal Terapung Petronas Di sisi lain, pasar juga mencermati perubahan kebijakan ekspor batubara Indonesia. Pemerintah Indonesia berencana mengambil alih pengelolaan perdagangan batubara melalui perusahaan negara yang akan mengendalikan kontrak dan harga ekspor. Pemerintah menyatakan tetap menghormati kontrak jangka panjang yang telah berjalan, tetapi membuka kemungkinan evaluasi harga kontrak ke depan. Kebijakan ini bertujuan menekan praktik under invoicing dan meningkatkan penerimaan negara. Namun, ketidakpastian implementasi aturan baru tersebut dinilai berpotensi mengganggu arus perdagangan batubara global dalam jangka pendek. Di Jepang, impor batubara termal diperkirakan mencapai 7,59 juta ton pada Mei, naik dari 6,63 juta ton pada April.
Baca Juga: Ekonomi Singapura Tumbuh 6% di Kuartal I-2026, Lampaui Perkiraan Sementara Korea Selatan diproyeksikan mengimpor 6,73 juta ton, tertinggi sejak Januari dan meningkat dibanding April sebesar 4,79 juta ton. Kedua negara tersebut diperkirakan meningkatkan penggunaan pembangkit listrik berbasis batubara sebagai alternatif LNG yang harganya melonjak akibat perang Iran. Kondisi ini turut mendongkrak harga batubara termal premium Australia. Harga batubara Newcastle tercatat naik menjadi US$ 133,09 per ton pada pekan hingga 22 Mei 2026, mendekati level tertinggi 18 bulan terakhir sebesar US$ 140,53 per ton pada awal April lalu. Australia sebagai eksportir batubara terbesar kedua dunia dinilai berpotensi diuntungkan apabila perubahan regulasi di Indonesia mengganggu pasokan global, terutama karena batubara kalori rendah Australia dapat menjadi substitusi bagi batubara Indonesia.