Impor Batubara India Naik, Simak Rekomendasi Saham PTBA dan ITMG



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan permintaan impor batubara dari India membuka peluang bagi emiten batubara Indonesia untuk mencatatkan kinerja penjualan yang lebih baik. Kondisi ini terutama berpotensi menguntungkan produsen yang memiliki eksposur pasar ekspor serta fleksibilitas dalam mengalokasikan volume penjualannya.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, kenaikan permintaan impor batubara India menjadi katalis positif terutama bagi perusahaan yang memiliki eksposur ekspor dan fleksibilitas dalam mengalihkan volume ke pasar dengan harga lebih menarik.


“India merupakan salah satu pasar besar, sehingga tambahan demand dapat membantu menjaga harga dan volume penjualan, meski dampaknya tetap tergantung jenis dan kualitas batubara yang dibutuhkan,” ujar Elandry kepada Kontan, Kamis (8/10/2026).

Menurut Elandry, sejumlah emiten batubara seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) memiliki eksposur terhadap pasar ekspor, termasuk India.

Baca Juga: FTSE Russell Pertahankan Status RI, Sektor Ini Jadi Pilihan Investor

Meski demikian, porsi ekspor masing-masing perusahaan ke India dapat berbeda dan berubah seiring dengan kontrak penjualan maupun kondisi pasar. Oleh karena itu, investor dinilai tidak cukup hanya mencermati besaran ekspor ke India.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah fleksibilitas perusahaan dalam mengalihkan volume penjualan ke pasar yang menawarkan harga lebih menarik.

Dari sisi penerima manfaat, emiten dengan basis produksi besar, biaya produksi kompetitif, serta eksposur ekspor kuat dinilai lebih mampu menangkap peluang dari peningkatan permintaan batubara India.

PTBA, misalnya, memiliki keunggulan dari sisi sumber daya dan diversifikasi pasar. Sementara itu, ITMG dan ADRO juga memiliki fleksibilitas dalam menggarap pasar ekspor.

Namun, peningkatan permintaan dari India belum secara otomatis akan berdampak sama terhadap harga jual seluruh emiten batubara. Pengaruhnya tetap ditentukan oleh jenis batubara yang diproduksi serta struktur kontrak penjualan masing-masing perusahaan.

“Dampaknya ke harga jual akan sangat bergantung pada jenis batubara dan kontrak penjualan masing-masing,” kata Elandry.

Prospek batubara 2027

Memasuki 2027, Elandry menilai permintaan dari India masih berpeluang menjadi salah satu faktor yang menopang pasar batubara global. Kendati demikian, pertumbuhan permintaan tersebut belum tentu mampu mendorong harga batubara untuk terus berada dalam tren kenaikan.

Menurut dia, dinamika pasar batubara global juga akan ditentukan oleh perkembangan pasokan, kebijakan energi India, pertumbuhan energi terbarukan, serta permintaan dari China.

“Untuk 2027, saya melihat demand India masih berpotensi menjadi salah satu support bagi pasar batubara, tetapi belum tentu cukup untuk membuat harga terus naik. Ada faktor supply global, kebijakan energi India, perkembangan renewable energy, serta permintaan China yang juga perlu diperhatikan,” ujar Elandry.

Baca Juga: Permintaan Batubara India Naik, Emiten Mana yang Berpotensi Kecipratan Cuan?

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Elandry cenderung melihat 2027 sebagai periode normalisasi pasar dengan volatilitas yang masih cukup tinggi. Kondisi tersebut dinilai belum menunjukkan tanda-tanda sebagai awal dari supercycle baru batubara.

Saham batubara pilihan

Dari sisi pasar saham, Elandry masih melihat PTBA dan ITMG menarik untuk dicermati. Kedua emiten tersebut dinilai memiliki dukungan dari fundamental operasional serta eksposur terhadap pasar batubara.

Meski demikian, potensi kenaikan harga saham tetap perlu dibandingkan dengan perkembangan harga batubara dan valuasi emiten saat ini.

“Namun upside saham tetap perlu dilihat terhadap harga batubara dan valuasi saat ini. Untuk target harga, saya lebih nyaman menggunakan target berbasis valuasi dan asumsi harga batubara terbaru agar tidak terlalu agresif,” pungkas Elandry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News