KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek neraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan hingga akhir 2026. Pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor dinilai berpotensi membuat surplus perdagangan tetap tipis. Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan, kinerja perdagangan Indonesia saat ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas investasi domestik, tetapi juga diikuti kebocoran eksternal yang semakin besar melalui impor. “Pertumbuhan impor secara konsisten melampaui ekspor tahun ini, menunjukkan bahwa sebagian dari siklus investasi saat ini dipenuhi melalui impor mesin, peralatan, dan input produksi,” ujar Faiz dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).
Baca Juga: Ekspor Nonmigas RI ke China Tembus US$ 40,62 Miliar hingga Juli 2026 Kata Faiz, kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Indonesia semakin sensitif terhadap pergerakan harga minyak maupun kekuatan penerimaan ekspor komoditas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 kembali mencatatkan surplus US$120 juta, setelah mengalami defisit US$450 juta pada Juni 2026. Namun, surplus tersebut relatif tipis lantaran pertumbuhan impor jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor. Pada Juli 2026, ekspor Indonesia mencapai US$26,22 miliar atau tumbuh 6,05% secara tahunan. Sementara itu, impor mencapai US$26,09 miliar atau melonjak 27,02% yoy. Secara kumulatif, sepanjang Januari-Juli 2026 neraca perdagangan masih mencatat surplus US$3,70 miliar. Namun, nilai tersebut ditopang oleh ekspor yang tumbuh 4,43% yoy menjadi US$167,03 miliar, sementara impor tumbuh jauh lebih cepat, yakni 19,94% yoy menjadi US$163,33 miliar. Menurut Faiz, impor barang modal dan barang antara kemungkinan masih akan tinggi seiring berlanjutnya aktivitas investasi, manufaktur, hilirisasi, dan pembangunan infrastruktur. “Impor barang modal dan barang setengah jadi yang kuat kemungkinan akan terus berlanjut seiring dengan siklus investasi,” jelasnya. Dengan kondisi tersebut, ia memperkirakan surplus perdagangan Indonesia ke depan akan tetap lebih tipis dibandingkan periode boom komoditas sebelumnya. Di sisi lain, ekspor masih memiliki penopang dari komoditas utama dan produk hilirisasi. Namun, pertumbuhan ekspor tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengimbangi laju impor yang meningkat. Faiz menyebut,harga minyak menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi posisi neraca perdagangan. Harga minyak yang lebih rendah saat ini memberikan sedikit ruang bagi perbaikan neraca perdagangan melalui penurunan nilai impor energi. “Cadangan perdagangan Indonesia seharusnya tetap jauh lebih tipis daripada siklus kenaikan komoditas sebelumnya,” katanya.
Baca Juga: BPS: Ekspor Besi, CPO hingga Batubara Naik hingga Juli 2026 Kondisi tersebut juga berimplikasi terhadap posisi eksternal Indonesia. Bank Danamon memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) akan melebar menjadi sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026. Ia menambahkan, posisi eksternal yang lebih rentan juga menjadi perhatian bagi Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan moneter. Terlebih, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat apabila kondisi keuangan global mengetat dan The Federal Reserve mengambil kebijakan yang lebih agresif. Dengan penyangga perdagangan yang semakin tipis, stabilitas nilai tukar dinilai akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keseimbangan eksternal Indonesia hingga akhir tahun Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News