KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas masih bergerak volatil di tengah tekanan dolar AS dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed. Namun, kuatnya permintaan dari China menjadi salah satu sentimen yang menopang harga emas. Berdasarkan data Trading Economics pada Rabu (23/9) pukul 17.20 WIB, harga emas spot berada di level US$ 4.316 per ons troi. Harga tersebut turun 1,10% dalam sehari dan 7,37% dalam sebulan, namun masih menguat 1,07% dalam sepekan. Di sisi lain, impor emas China hingga Agustus telah melampaui 1.000 ton, bahkan melebihi total impor sepanjang 2025. Kondisi tersebut mencerminkan masih kuatnya permintaan investasi emas di China dan menjadi sentimen positif bagi pasar emas.
Baca Juga: SSSG Membaik, Kinerja ACES Diproyeksi Tetap Tumbuh hingga Akhir 2026 Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan menilai kuatnya pembelian emas dari China, baik oleh bank sentral maupun investor, masih menjadi salah satu penopang harga emas dalam jangka menengah hingga panjang. "Pembelian bank sentral dan investor China menjadi salah satu faktor yang dapat menjaga dasar harga emas dalam jangka menengah-panjang," kata Brahmantya kepada Kontan, Rabu (23/9/2026). Selain impor yang tinggi, permintaan emas China juga ditopang oleh pembelian bank sentral dan investor domestik. People’s Bank of China (PBoC) masih melanjutkan akumulasi emas, sementara ETF emas China turut menunjukkan permintaan investasi. Sementara itu, Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan, China memiliki peranan penting sebagai salah satu jangkar permintaan emas global, baik melalui pembelian PBoC maupun permintaan dari investor dan masyarakat ritel. "China, baik melalui People’s Bank of China (PBoC) maupun sektor ritel/investasi domestik, memegang peranan krusial sebagai jangkar permintaan global," ujar Wahyu. Kuatnya permintaan China tersebut dapat menjadi bantalan bagi harga emas ketika pasar menghadapi tekanan dari dolar AS dan kebijakan suku bunga. Di sisi lain, penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS dapat menjadi katalis positif bagi emas apabila berlanjut, karena berpotensi meredakan tekanan inflasi dan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga. Hingga akhir 2026, Wahyu memperkirakan harga emas masih berpotensi bergerak dalam rentang US$ 4.300-US$ 5.000 per ons troi. Dalam skenario moderat, harga emas berada di sekitar US$ 4.500, sedangkan apabila inflasi mereda dan kondisi geopolitik relatif stabil, harga berpeluang menuju US$ 4.800-US$ 4.900.
Sementara itu, Brahmantya memproyeksikan harga emas dapat mencapai US$ 4.800-US$ 5.000 per ons troi pada akhir 2026 apabila area support US$ 4.200-US$ 3.900 tetap bertahan. Prospek tersebut akan semakin kuat apabila pembelian emas oleh bank sentral dan investor China tetap tinggi, sementara tekanan dari dolar AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga mulai mereda.
Baca Juga: ASII Siapkan Investasi Besar di Tiga Bisnis Inti, Ini Prospek Sahamnya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News