Impor Indonesia hingga Juni 2026 Didominasi dari China, Jepang, dan Australia



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat China masih menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–Juni 2026. Pangsa impor nonmigas dari Negeri Tirai Bambu mencapai 42,37% dari total impor nonmigas nasional pada semester I-2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan, nilai impor nonmigas Indonesia dari China mencapai US$ 48,82 miliar pada periode Januari–Juni 2026.

“Tiga besar impor paling tinggi dari China, Jepang, dan Australia. Ketiganya berkontribusi sekitar 52,89% dari total impor non migas Indonesia,” tutur Ateng dalam konferensi pers, Senin (3/8/2026).


Baca Juga: Pemerintah Akan Bahas Batasan Kandungan Logam Tanah Jarang untuk Ekspor Senin (3/8)

Impor dari negara tersebut didominasi oleh kelompok mesin/peralatan mekanis dan bagiannya (HS 84) senilai US$ 10,80 miliar atau berkontribusi 22,13% terhadap total impor dari China. Nilai impor komoditas ini tumbuh 16,42% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selanjutnya, impor mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya (HS 85) mencapai US$ 10,53 miliar dengan pangsa 21,57% dan tumbuh 26,27% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, impor plastik dan barang dari plastik (HS 39) tercatat US$ 2,96 miliar, menyumbang 6,07% terhadap impor dari China, sekaligus menjadi kelompok dengan pertumbuhan tertinggi di antara tiga komoditas utama, yakni 59,98%.

Di luar China, ASEAN menjadi kawasan asal impor nonmigas terbesar kedua dengan pangsa 14,67%, disusul Uni Eropa sebesar 6,41%, Jepang 5,56%, Australia 4,96%, dan negara lainnya 26,03%.

Sementara berdasarkan negara, Jepang menjadi pemasok impor nonmigas terbesar kedua Indonesia dengan nilai US$ 6,41 miliar atau pangsa 5,56%.

Komoditas utama impor dari Jepang ialah mesin/peralatan mekanis dan bagiannya senilai US$1,34 miliar atau berkontribusi 20,85% terhadap impor dari Jepang. Namun, nilai impor komoditas tersebut turun 14,39% dibandingkan semester I-2025.

Kemudian, impor kendaraan dan bagiannya (HS 87) tercatat US$ 0,82 miliar dengan pangsa 12,83%, turun 28,60% secara tahunan. Sementara impor besi dan baja (HS 72) juga sebesar US$ 0,82 miliar atau berkontribusi 12,72%, tetapi mengalami kontraksi 20,52%.

Adapun Australia menempati posisi ketiga sebagai negara asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai US$5,71 miliar atau pangsa 4,96%.

Impor dari Australia terutama berasal dari logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71) senilai US$1,50 miliar dengan kontribusi 23,35% terhadap total impor dari Australia. Nilai impor komoditas tersebut melonjak 203,00% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, impor serealia (HS 10) mencapai US$0,69 miliar dengan pangsa 10,71% dan tumbuh 4,90% yoy. Sementara impor bahan bakar mineral (HS 27) tercatat US$ 0,64 miliar atau berkontribusi 9,92%, turun 10,00%.

Baca Juga: Papua Barat Catat Inflasi Tertinggi, Papua Selatan Terendah pada Juli 2026

BPS juga mencatat bahwa nilai impor dari kawasan ASEAN telah mencakup impor Indonesia dari Timor Leste sebagai bagian dari keanggotaan negara tersebut di ASEAN.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News