Impor Jepang Cetak Rekor, Harga Minyak Dorong Tekanan Inflasi



KONTAN.CO.ID – TOKYO. Impor Jepang mencetak rekor bulanan baru pada Juli 2026, didorong kenaikan harga minyak yang meningkatkan biaya energi dan tekanan inflasi. Di sisi lain, ekspor Jepang juga mencapai level tertinggi sepanjang masa berkat pelemahan yen dan kuatnya permintaan produk terkait semikonduktor.

Berdasarkan data pemerintah Jepang yang dirilis Kamis (20/8/2026), nilai total impor Jepang pada Juli 2026 meningkat 27,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 12,1 triliun yen atau sekitar US$76,39 miliar.

Realisasi tersebut mencatat rekor baru untuk bulan kedua berturut-turut sekaligus melampaui perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan impor sebesar 26,5%.


Kenaikan impor Jepang terutama dipengaruhi oleh biaya energi. Volume impor minyak mentah Jepang meningkat 5,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini menjadi kenaikan pertama dalam empat bulan terakhir.

Namun, secara nilai, impor minyak mentah melonjak jauh lebih tinggi, yakni 87,8%. Kondisi tersebut mencerminkan kombinasi antara peningkatan volume, harga minyak yang masih tinggi, serta meningkatnya pengiriman minyak mentah asal Amerika Serikat (AS) yang memiliki harga lebih mahal.

Baca Juga: Lalu Lintas Pelayaran di Selat Hormuz Masih Sepi di Tengah Kebuntuan AS-Iran

"Pemulihan volume minyak mentah, ditambah harga minyak yang terus tinggi dan meningkatnya pengiriman minyak mentah AS yang lebih mahal, telah mendorong naik nilai impor," kata ekonom Daiwa Institute of Research, Koki Akimoto.

Pasokan Minyak Jepang Beralih ke AS

Kenaikan volume impor minyak mentah Jepang terjadi ketika negara tersebut mulai mengandalkan sumber pasokan alternatif, terutama dari AS, untuk menggantikan sebagian pengiriman dari Timur Tengah yang terganggu akibat konflik di kawasan tersebut.

Perang di Timur Tengah sebelumnya mengganggu jalur pelayaran melalui Selat Hormuz dan memicu lonjakan harga minyak mentah, petrokimia, serta berbagai komoditas lainnya.

Sebagai negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari luar negeri, kenaikan harga komoditas tersebut meningkatkan nilai impor Jepang dan memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian.

Meskipun harga minyak mulai turun pada Juni setelah sebagian jalur pelayaran kembali pulih, dampak terhadap nilai impor biasanya baru terlihat beberapa waktu kemudian. Pasalnya, harga impor yang tercatat berdasarkan data bea cukai mencerminkan kontrak yang telah disepakati beberapa pekan sebelumnya.

Kenaikan biaya komoditas dan energi juga merambat ke berbagai rantai pasok. Kondisi tersebut turut meningkatkan tekanan inflasi Jepang.

Harga produsen Jepang pada Juli 2026 tercatat meningkat 7,2% secara tahunan.

Baca Juga: Korsel: Korea Utara Tampak Berminat pada Tawaran Dialog Trump

Ekspor Jepang Juga Cetak Rekor

Di tengah lonjakan impor, kinerja ekspor Jepang justru menunjukkan penguatan signifikan.

Ekspor Jepang pada Juli 2026 melonjak 23,2% yoy menjadi 11,5 triliun yen. Angka tersebut merupakan rekor tertinggi dan jauh melampaui median perkiraan pasar yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 19,9%.

Pertumbuhan ekspor Juli juga melanjutkan tren positif setelah ekspor Jepang naik 19,3% pada Juni.

Permintaan yang berkaitan dengan pusat data dan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu pendorong utama ekspor Jepang. Pelemahan tajam nilai tukar yen juga membuat produk Jepang relatif lebih kompetitif bagi pembeli di pasar internasional.

Ekspor ke AS pada Juli meningkat 22% yoy, sedangkan pengiriman ke China tumbuh 25,8%.

Kinerja tersebut menunjukkan bahwa permintaan global terhadap produk Jepang masih cukup kuat. Kondisi ini menjadi penting bagi perekonomian Jepang yang semakin mengandalkan ekspor untuk mengimbangi lemahnya permintaan domestik.

Defisit Perdagangan Jepang

Meski ekspor mencatat rekor, Jepang tetap membukukan defisit perdagangan pada Juli 2026 karena nilai impor meningkat lebih cepat.

Jepang mencatat defisit perdagangan sebesar 634,5 miliar yen pada Juli. Namun, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 680 miliar yen.

Data perdagangan tersebut juga mengikuti laporan ekonomi Jepang yang dirilis sebelumnya pada pekan ini. Ekonomi Jepang tercatat tumbuh untuk kuartal ketiga berturut-turut pada periode April-Juni 2026.

Baca Juga: Donald Trump Siapkan Perang Ekonomi, Negara Pendukung Iran Jadi Target

Kuatnya ekspor membantu menopang pertumbuhan ekonomi di tengah lemahnya konsumsi rumah tangga dan investasi bisnis.

BoJ Berpeluang Lanjutkan Normalisasi Kebijakan

Tekanan inflasi yang masih bertahan, ditambah kinerja ekspor yang relatif kuat, berpotensi memperkuat alasan bagi Bank of Japan (BoJ) untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneter.

Bank sentral Jepang bahkan diperkirakan dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada September 2026.

Kenaikan harga energi dan biaya produksi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan BoJ karena dapat menjaga tekanan inflasi tetap tinggi. Pada saat yang sama, ketahanan ekspor menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Jepang masih memiliki penopang meskipun permintaan domestik belum sepenuhnya pulih.

Dengan demikian, data perdagangan Juli memberikan gambaran yang cukup beragam bagi perekonomian Jepang. Rekor impor mencerminkan tingginya biaya energi dan tekanan harga, sementara rekor ekspor menunjukkan masih kuatnya permintaan global terhadap produk Jepang.