KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 diperkirakan menyusut dibandingkan bulan sebelumnya. Lonjakan harga minyak mentah global dan pemulihan aktivitas manufaktur domestik berpotensi mendorong impor tumbuh lebih cepat daripada ekspor. Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman memperkirakan nilai impor Indonesia pada September 2026 tumbuh 23,07% secara tahunan (YoY).
Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi Agustus 2026 sebesar 10,09% YoY.
Baca Juga: Surplus Neraca Dagang September 2026 Diproyeksi Menyusut Jadi US$ 3 Miliar Kenaikan impor terutama dipengaruhi tingginya harga minyak global. Sebagai negara pengimpor bersih minyak (net importer), Indonesia harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan energi. Selain itu, peningkatan impor sejalan dengan aktivitas manufaktur domestik yang mulai berekspansi. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang kembali berada di atas level 50 pada September 2026. Faisal juga mencatat ekspor China ke Indonesia meningkat 27,27% YoY pada periode tersebut. "Kenaikan impor sejalan dengan meningkatnya aktivitas manufaktur domestik," kata Faisal kepada KONTAN, Jumat (30/10/2026). Di sisi lain, ekspor Indonesia diperkirakan tumbuh 9,39% YoY pada September 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus sebesar 6,72% YoY. Kinerja ekspor ditopang kenaikan harga komoditas, terutama batubara, serta permintaan yang lebih kuat dari sejumlah mitra dagang utama, seperti China, India, dan Jepang.
Baca Juga: Kebutuhan Impor Tinggi, Surplus Neraca Dagang September 2026 Diproyeksi Menyusut Dengan perkembangan tersebut, Faisal memperkirakan surplus neraca perdagangan September 2026 mencapai US$ 1,79 miliar, turun dari US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual juga memperkirakan surplus perdagangan menyusut menjadi US$ 1,53 miliar. Ia memproyeksikan ekspor tumbuh 9,31% YoY, sedangkan impor melonjak 25,08% YoY. Menurut David, peningkatan ekspor ke China turut ditopang produk crude palm oil (CPO) dan sejumlah produk logam. Namun, pertumbuhan impor yang lebih tinggi berpotensi menekan surplus perdagangan. Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan surplus neraca perdagangan September 2026 sebesar US$ 2,25 miliar. Secara bulanan, nilai ekspor diproyeksikan naik 2,5%, sedangkan impor meningkat 8,6%. Andry menilai penyusutan surplus terutama dipengaruhi pemulihan impor setelah mengalami koreksi 11,6% secara bulanan pada Agustus 2026. Berbeda dengan proyeksi tersebut, Ekonom Bank Syariah Indonesia Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan surplus perdagangan masih mencapai US$ 3 miliar. Meski demikian, angka tersebut tetap lebih rendah dibandingkan surplus Agustus 2026 sebesar US$ 3,55 miliar. Banjaran memproyeksikan surplus berada dalam rentang US$ 1,4 miliar hingga US$ 4,6 miliar.
Baca Juga: Surplus Neraca Dagang RI Diproyeksi Naik Jadi US$ 1 Miliar pada Mei 2026 Proyeksi yang lebih rendah disampaikan Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz. Ia memperkirakan surplus neraca perdagangan September 2026 hanya sekitar US$ 1 miliar. Irman memproyeksikan ekspor tumbuh 4,5% YoY, sementara impor melesat 22% YoY. Dengan selisih pertumbuhan tersebut, tekanan terhadap surplus perdagangan diperkirakan semakin besar. Bahkan, ia melihat neraca perdagangan berisiko mencatat defisit apabila pemulihan impor berlangsung lebih kuat dari perkiraan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News