Impor Meningkat, Surplus Neraca Dagang Diprediksi Susut Pada September 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Surplus neraca perdagangan Indonesia diperkirakan menyempit pada September 2026. Kondisi ini seiring pemulihan impor yang diproyeksikan tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan, neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 mencatat surplus sebesar US$ 2,25 miliar. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan surplus pada Agustus 2026 yang mencapai US$ 3,55 miliar.

Andry memperkirakan, nilai ekspor Indonesia pada September 2026 mencapai US$ 27,3 miliar atau meningkat 2,5% secara bulanan (month to month/mtm) dan 10,6% secara tahunan (year on year/YoY).


Baca Juga: Harga Pangan Melandai, Inflasi Oktober Diprediksi Melandai Jadi 0,19%

Sementara itu, nilai impor diproyeksikan mencapai US$ 25 miliar atau meningkat 8,6% mtm. Secara tahunan, impor diperkirakan tumbuh 22,3% yoy.

"Surplus perdagangan yang lebih sempit terutama mencerminkan pemulihan impor setelah mengalami koreksi sebesar 11,6% secara bulanan pada Agustus 2026," ujar Andry dalam kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Dari sisi ekspor, permintaan dari sejumlah mitra dagang utama Indonesia menunjukkan perbaikan. Hal ini tercermin dari peningkatan impor negara mitra dari Indonesia yang tumbuh 4,7% mtm pada September 2026.

Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh Malaysia yang tumbuh 19,8% mtm, India sebesar 9,3% mtm, dan China sebesar 5,5% mtm. Namun, permintaan dari Taiwan dan Jepang masih mengalami penurunan masing-masing sebesar 34,5% mtm dan 6,8% mtm.

Selain itu, harga rata-rata batubara tercatat meningkat 11,7% mtm menjadi US$ 146 per ton. Kenaikan harga komoditas ini turut memberikan dukungan terhadap kinerja ekspor Indonesia.

Di sisi lain, pemulihan impor Indonesia tercermin dari meningkatnya ekspor sejumlah negara pemasok utama di Asia ke Indonesia. Secara keseluruhan, ekspor negara mitra ke Indonesia meningkat 8,1% mtm pada September 2026.

“Pemulihan impor terutama didorong oleh meningkatnya pasokan dari negara-negara mitra utama di Asia, khususnya Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura,” jelasnya.

Ekspor Korea Selatan ke Indonesia meningkat 19,8% mtm, Taiwan sebesar 15,7% mtm, dan Singapura sebesar 13,2% mtm.

Selain itu, kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 15,8% mtm pada September 2026 diperkirakan turut mendorong nilai impor minyak dan gas Indonesia.

Baca Juga: Pengerahan Militer untuk Jaga Demo Mahasiswa Dikritik, Ini Tugas Pokok TNI Sesuai UU

Dalam kesempatan berbeda, Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz memperkirakan, surplus neraca perdagangan pada September 2026 akan mencapai sekitar US$1 miliar, menyempit dari US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026.

Sementara  itu, kinerja ekspor diproyeksikan tumbuh 4,5% yoy menjadi US$ 25,8 miliar, kemudian impor diperkriakan tumbuh 22,0% yoy menjadi US$24,8 miliar.

“Penyempitan surplus terutama mencerminkan kenaikan tagihan impor energi serta pemulihan kebutuhan bahan baku sejalan dengan membaiknya aktivitas manufaktur,” tutur Faiz.

Sementara itu, nilai ekspor diperkirakan mengalami penurunan secara bulanan, sejalan dengan pola musiman yang secara historis terjadi pada September. Meski demikian, Faiz menilai ekspor masih diproyeksikan tumbuh secara tahunan.

Dengan kondisi tersebut, risiko neraca perdagangan cenderung mengarah pada surplus yang lebih tipis, bahkan berpotensi mengalami defisit apabila pemulihan impor lebih kuat dari perkiraan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News