KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Impor minyak mentah China mengalami penurunan pada Maret 2026 di tengah tingginya basis tahun sebelumnya dan mulai munculnya dampak konflik di Timur Tengah. Gangguan pasokan dari kawasan tersebut diperkirakan akan semakin terasa pada April. Berdasarkan data resmi dari General Administration of Customs, impor minyak mentah China pada Maret tercatat sebesar 49,98 juta metrik ton atau sekitar 11,77 juta barel per hari (bpd), turun 2,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, impor minyak laut (seaborne crude) relatif stabil di kisaran 10,5 juta bpd secara tahunan. Sementara itu, stok minyak meningkat signifikan sebesar 34 juta barel.
Analis dari Vortexa, Emma Li, menjelaskan bahwa impor Maret belum terdampak gangguan di Selat Hormuz karena pengiriman dari Timur Tengah telah dimuat sejak Januari dan Februari.
Baca Juga: Harga Minyak Turun, Harapan Negosiasi AS-Iran Redakan Kekhawatiran Pasokan Utilisasi Kilang Turun
Tingkat utilisasi kilang minyak di China pada Maret tercatat sebesar 68,79%, turun 0,9 poin persentase secara tahunan dan anjlok 4,47 poin dari Februari, menurut data konsultan energi Oilchem. Penurunan ini terjadi baik pada kilang besar maupun kilang independen, yang menurunkan tingkat operasi akibat risiko pasokan minyak mentah serta tekanan margin. Wakil Presiden Rystad Energy, Ye Lin, memperkirakan China akan menghadapi pasokan minyak yang lebih ketat pada April. Impor diprediksi akan lebih rendah sekitar 2 juta bpd dibandingkan kebutuhan rata-rata. Untuk menjaga pasokan produk minyak, China kemungkinan akan mengandalkan cadangan domestik, meskipun aktivitas kilang diperkirakan turun sekitar 1 juta bpd akibat lemahnya margin.
Ekspor BBM Turun, Kebijakan Diperketat
Data bea cukai juga menunjukkan ekspor produk minyak olahan seperti solar, bensin, bahan bakar aviasi, dan bahan bakar kapal turun 12,2% menjadi 4,6 juta ton pada Maret. Penurunan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah China yang melarang ekspor bahan bakar olahan sejak bulan lalu. Larangan tersebut menghentikan pengiriman yang belum lolos proses bea cukai per 11 Maret. Kebijakan ini diperkirakan berlanjut hingga April, meskipun ada kemungkinan pengecualian terbatas untuk negara-negara tertentu di kawasan yang membutuhkan pasokan. Di sisi lain, kilang-kilang besar meningkatkan produksi bensin dan solar setelah rencana ekspor dikurangi. Permintaan domestik yang relatif lemah membuat pasokan melimpah dan stok dalam negeri meningkat.
Baca Juga: Iran Alokasikan Pendapatan Minyak untuk Rekonstruksi Pasca Serangan AS-Israel Impor Gas Alam Juga Melemah
Impor gas alam China, termasuk melalui pipa dan gas alam cair (LNG), turun 10,7% secara tahunan menjadi 8,18 juta ton pada Maret—level terendah sejak Oktober 2022.
Meski demikian, China sebagai importir LNG terbesar dunia justru mengekspor kembali (reloading) sekitar 8 hingga 10 kargo LNG pada bulan tersebut, memanfaatkan lonjakan harga spot global. Data dari Kpler menunjukkan impor LNG China pada Maret mencapai 3,68 juta ton, terendah sejak April 2018. Hal ini mencerminkan kecukupan pasokan domestik dan gas pipa di tengah permintaan yang melemah. Dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait konflik dengan Iran, pasokan energi global berpotensi semakin terganggu. Penutupan atau pembatasan akses di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang dapat menekan impor minyak China pada bulan-bulan mendatang. Kondisi ini menempatkan China pada posisi strategis untuk mengelola cadangan energi dan menyesuaikan operasi kilang guna menjaga stabilitas pasokan domestik di tengah volatilitas pasar global.