Impor Pertanian AS US$ 4,5 Miliar Disepakati, Tarif Kedelai 0%



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indonesia membuka keran impor lebih besar bagi produk pertanian Amerika Serikat sebagai bagian dari kesepakatan dagang terbaru yang diumumkan Gedung Putih.

Langkah ini menjadi bagian dari penguatan hubungan ekonomi bilateral sekaligus strategi penyeimbangan neraca perdagangan kedua negara.

Dalam fact sheet resmi yang dirilis Gedung Putih, pemerintahan Presiden Donald Trump menyebut perjanjian ini akan memberikan akses pasar yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi sektor pertanian Amerika Serikat.


"Hari ini, Pemerintahan Trump merampungkan perjanjian perdagangan bersejarah dengan Indonesia yang akan memberikan akses pasar yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Amerika serta membuka terobosan besar bagi sektor manufaktur, pertanian, dan digital AS," tulis dokumen tersebut, Jumat (20/2/2026).

Baca Juga: Tarif 0% untuk Produk Pertanian AS, Pemerintah Perlu Cari Sumber Penerimaan Baru

Salah satu poin utama dalam kesepakatan ini adalah komitmen pembelian produk pertanian Amerika Serikat senilai lebih dari US$ 4,5 miliar atau setara Rp 75,98 triliun (kurs Rp 16.884 per dolar AS).

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya Washington menekan defisit perdagangan barangnya dengan Indonesia, yang saat ini tercatat sebagai mitra defisit terbesar ke-15 bagi AS.

Gedung Putih menegaskan, kesepakatan ini akan membuka terobosan besar bagi sektor manufaktur, pertanian, dan digital Amerika, sekaligus memperluas penetrasi produk agrikultur AS di pasar Indonesia.

Tarif 0% untuk Kedelai dan Gandum

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa Indonesia memberikan fasilitas tarif 0% untuk sejumlah produk pertanian utama asal AS, khususnya kedelai (soybean) dan gandum (wheat).

"Indonesia juga komitmen untuk memberikan fasilitas untuk produk Amerika dengan tarif 0%, karena utamanya Indonesia mengimpor produk pertanian, kemudian juga soybean sehingga masyarakat Indonesia membayar 0% untuk barang yang diproduksi dari soybean ataupun wheat dalam hal ini noodle (mie) ataupun dalam bentuk tahu dan tempe," ungkap Airlangga dalam konferensi pers virtual dari Washington DC, AS, Jumat (20/2/2026).

Ia menekankan bahwa kebijakan ini dirancang untuk menjaga daya beli masyarakat. Produk turunan kedelai dan gandum seperti tahu, tempe, dan mi instan dipastikan tidak akan mengalami kenaikan biaya akibat beban tarif.

Baca Juga: Kementan Alokasikan Rp336 Miliar guna Rehabilitasi Sawah Terdampak Banjir di Sumatera

“Jadi masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat,” katanya.

Stabilitas Harga Pangan dan Tekanan Inflasi

Menurut Airlangga, dampak utama perjanjian ini adalah terjaganya stabilitas harga pangan pokok berbasis impor. Indonesia selama ini belum mampu memproduksi kedelai dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan industri makanan nasional.

“Dampak dari perjanjian ini adalah pertama kita tidak memiliki beban impor bahan baku untuk makanan esensial seperti tahu dan tempe serta untuk mi yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Jadi tidak ada tekanan inflasi dari komponen ini karena makanan ini diproduksi oleh sektor pertanian di AS," ujarnya.

Dengan tarif impor 0%, risiko kenaikan harga akibat fluktuasi biaya bahan baku diharapkan dapat diminimalkan, sehingga menjaga stabilitas inflasi pangan domestik.

 

Selanjutnya: Perkuat Ekspansi, Rukita Hadirkan Coliving di Makassar dan Surabaya

Menarik Dibaca: Perkuat Ekspansi, Rukita Hadirkan Coliving di Makassar dan Surabaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News