KONTAN.CO.ID - Impor
rare earth Jepang dari China turun 5,7% secara tahunan (
year-on-year/YoY) pada Januari (27/2/2026), berdasarkan perhitungan lembaga riset Mizuho Research & Technologies yang mengacu pada data perdagangan Kementerian Keuangan Jepang. Belum jelas apakah penurunan tersebut berkaitan langsung dengan ketegangan diplomatik antara Japan dan China.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Tipis Jumat (27/2), AS–Iran Perpanjang Perundingan Nuklir Hubungan kedua negara memburuk dalam beberapa bulan terakhir, terutama setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November menyatakan Jepang dapat menggunakan kekuatan militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan yang juga mengancam wilayah Jepang. Dampak Pembatasan Ekspor China Bulan lalu, China mengumumkan larangan ekspor ke Jepang atas barang-barang “dual-use” atau barang dengan potensi penggunaan militer. Laporan media juga menyebut ekspor rare earth dan magnet berkekuatan tinggi yang mengandung mineral tersebut turut terdampak.
Baca Juga: Krisis Chip, Pasar Smartphone Akan Turun Terdalam Sepanjang Sejarah di Tahun Ini Berdasarkan data perdagangan terbaru, Mizuho menghitung delapan komoditas terkait
rare earth, termasuk
cerium oxide dan senyawa cerium yang digunakan dalam industri otomotif dan metalurgi. Pejabat di Japan Organization for Metals and Energy Security (JOGMEC) mengatakan, angka bulanan biasanya berfluktuasi, sehingga perlu kehati-hatian sebelum menyimpulkan bahwa penurunan Januari secara langsung disebabkan oleh pembatasan ekspor China. Risiko terhadap Ekonomi Jepang Ekonom senior Mizuho, Takeshi Higashifukasawa memperkirakan, produk domestik bruto (PDB) Jepang bisa turun 0,1% hingga 0,2% jika ekspor rare earth China dipangkas setengahnya selama enam bulan. Pekan ini, Kementerian Perdagangan China juga melarang ekspor barang dual-use kepada 20 entitas Jepang yang disebut memasok kebutuhan militer Jepang.
Baca Juga: Won Korsel dan Ringgit Malaysia Pimpin Pelemahan Mata Uang Asia Jumat (27/2/2026) Aturan tersebut secara efektif memutus akses perusahaan-perusahaan itu terhadap tujuh jenis
rare earth dan material terkait yang masuk dalam daftar kontrol dual-use China, serta sejumlah mineral kritis lainnya. Beberapa rare earth seperti dysprosium, yttrium, dan samarium memiliki peran kecil secara volume, namun sangat vital dalam produksi mobil, pesawat, sistem persenjataan, dan elektronik konsumen. Ketergantungan Strategis
China merupakan pemasok
rare earth terbesar dunia, sehingga setiap pembatasan ekspor berpotensi mengguncang rantai pasok global.
Baca Juga: Hakim AS Tolak Permintaan Arbitrase Binance, Gugatan Nasabah Kripto Tetap Jalan Bagi Jepang yang memiliki sektor otomotif dan elektronik besar stabilitas pasokan mineral kritis menjadi isu strategis, baik dari sisi industri maupun keamanan nasional. Jika pembatasan berlanjut atau diperluas, Jepang kemungkinan akan mempercepat diversifikasi sumber pasokan dan pengembangan cadangan domestik untuk mengurangi ketergantungan pada China.