Impor tertunda, harga garam naik tinggi



JAKARTA. Realisasi impor garam sebanyak 75.000 ton molor. Jika sebelumnya impor garam direncanakan bisa terealisasi pada awal April 2017, kemungkinan besar baru bisa terlaksana di akhir April 2017. Mundurnya realisasi impor disebabkan karena Kementerian Perdagangan (Kemdag) mengubah persetujuan impor milik PT Garam.

Mundurnya realisasi impor garam ini akan membuat kekosongan stok garam yang telah berlangsung sejak bulan lalu, terus berlanjut. Direktur Utama PT Garam Ahmad Budiono menyebut, mundurnya realisasi impor garam akan semakin memperparah kondisi stok produsen garam di dalam negeri.

Sebab semakin lama impor dilakukan, akan membuat produsen garam tidak bisa berproduksi, karena sudah tidak memiliki bahan baku. "Ada substansi yang kurang tepat pada persetujuan impor awal, sehingga perlu diganti," ujar Ahmad kepada KONTAN, Selasa (4/4).


Karena itu, Ahmad bilang tertundanya impor garam juga membuat PT Garam sepanjang kuartal I-2017 tidak berproduksi sama sekali, karena tak ada bahan baku garam. Apalagi tambak garam milik PT Garam masih belum bisa berproduksi di tiga bulan pertama tahun ini karena curah hujan yang masih tinggi.

Dampak lain dari keterlambatan ini adalah harga garam konsumsi saat ini naik drastis menjadi Rp 2.500 per kilogram (kg), padahal pada kondisi normal harga garam hanya dijual Rp 500 per kg.

Masalah semakin rumit karena di saat harganya sudah tinggi, barangnya tidak ada. Padahal bila pada awal April impor garam 75.000 ton sudah tiba di Tanah Air, maka produksi garam dalam negeri sudah bisa dilakukan.

Sebanyak 75.000 ton garam rencananya akan didatangkan dari perusahaan Australia, Dampier Rio Tinto sebanyak 55.000 ton. Ditambah dari India sebanyak 20.000 ton dari perusahaan Kandla Agro And Chemical Limited. Rencananya dari total 75.000 ton garam impor, 25.000 ton didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri kecil menengah garam dan PT Garam. Selebihnya 50.000 ton dialokasikan untuk pabrik garam konsumsi.

Sukawi, Direktur UD Rizky Mandiri, produsen garam kelas menengah mengaku tidak bisa berbuat banyak akibat molornya pemasukan impor garam. Ia pesimis garam impor yang datang akhir bulan ini terealisasi tepat waktu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini