KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi menjadi sumber tekanan inflasi baru pada paruh kedua 2026. Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga berbagai komoditas impor dan membuat inflasi bertahan pada level yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya. Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang, menilai risiko
imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor masih perlu diwaspadai, meskipun inflasi Mei 2026 masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada Mei 2026 mencapai 3,08%, meningkat dari 2,42% pada April 2026. Secara bulanan, inflasi juga tercatat naik sebesar 0,28%.
Baca Juga: Meski Indeks Manufaktur Membaik, Pengusaha Masih Waspadai Banyak Tekanan Menurut Hosianna, kenaikan inflasi Mei didorong oleh berbagai komponen, mulai dari kelompok pangan hingga transportasi. Komoditas yang menyumbang kenaikan harga antara lain cabai rawit, minyak goreng, tomat, bawang merah, avtur, serta biaya perawatan kendaraan. "Ke depan, kombinasi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan mulai terjadi pada Juni 2026 dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas impor," ujar Hosianna, Selasa (2/6). Hosianna menjelaskan, sejumlah komoditas impor yang rentan mengalami kenaikan harga akibat pelemahan rupiah antara lain bahan bakar, gandum, kedelai, daging merah, plastik, oli mesin, hingga asam sulfat. Kenaikan harga komoditas tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi berbagai sektor industri dan pada akhirnya diteruskan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang dan jasa. Hosianna menilai tekanan
imported inflation perlu mendapat perhatian karena dapat memperpanjang tren kenaikan inflasi yang mulai terlihat pada Mei 2026. Terlebih, sejumlah bahan baku industri Indonesia masih bergantung pada pasokan impor. Selain faktor nilai tukar, risiko inflasi juga datang dari potensi gangguan pasokan pangan akibat fenomena El Nino. Cuaca yang lebih kering berpotensi menekan produksi pertanian dan memicu kenaikan harga bahan pangan di dalam negeri. Pada Mei 2026, inflasi kelompok harga bergejolak (
volatile food) tercatat mencapai 6,24% secara tahunan. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga cabai rawit dan tomat menjelang Hari Raya Iduladha serta terganggunya produksi bawang merah akibat faktor cuaca. Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 2,59% secara tahunan, ditopang oleh kenaikan harga minyak goreng, nasi dengan lauk, oli mesin, dan harga mobil. Adapun inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah
(administered prices) berada di level 2,07%, dengan penyumbang utama berasal dari tarif angkutan udara, produk tembakau, dan bahan bakar rumah tangga. Menurut Hosianna, tekanan inflasi dari sisi impor menjadi salah satu risiko utama yang perlu diwaspadai pada semester II 2026, terutama jika pelemahan rupiah berlanjut di tengah ketidakpastian global.
"Tekanan inflasi dari sisi impor masih menjadi salah satu risiko utama yang perlu diwaspadai pada paruh kedua 2026, terutama jika pelemahan rupiah berlanjut dan kondisi cuaca mengganggu pasokan pangan domestik," ujarnya. Meski demikian, Hosianna menilai inflasi masih dapat terkendali apabila stabilitas nilai tukar rupiah terjaga dan pasokan pangan domestik tetap memadai. Namun, kombinasi pelemahan rupiah dan gangguan pasokan pangan berpotensi mendorong inflasi bergerak lebih tinggi pada sisa tahun ini.
Baca Juga: Tekanan Harga Impor Picu Lonjakan Inflasi Mei 2026, Berisiko Naik Lebih Tinggi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News