Importir buah segar merugi akibat pelemahan rupiah



JAKARTA. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Mungkin peribahasa ini te[at untuk menggambarkan kondisi para importir buah dan sayuran dalam negeri. Kondisi ekonomi yang sedang terseok-seok membuat daya beli masyarakat menurun.

Pada waktu bersamaan mata uang rupiah terus tertekan penguatan dollar Amerika Serikat (AS). Akibat kondisi yang serba susah ini, sejumlah importir buah merumahkan karyawan dan beberapa memilih mengurangi kapasitas penjualan.

Khafid Sirotuddin, Ketua Umum Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo) mengatakan, harga buah impor di pasar manca negara tidak mengalamin kenaikan. Namun pelemahan kurs rupiah terhadap dollar membuat importir harus membayar lebih besar untuk mendapatkan buah dan sayuran impor.


Permasalahannya sekarang importir membayar di sana pakai dollar, sementara dijual di sini memakai rupiah. Sebagai contoh, bila dulu setiap US$ 5 dibayar dengan Rp 50.000 sekarang dibayar dengan Rp 70.000. Artinya ada selisih kurs yang cukup besar.

Ia menjelaskan, pada kondisi normal, hal seperti ini dapat disiasati dengan menaikkan harga jual buah dan sayuran impor. Namun hal itu tidak dapat dilakukan saat ini, karena daya beli masyarakat turun.

Apalagi buah dan sayuran bukanlah kebutuhan pokok yang harus dibeli. Dengan demikian, bila pedagang buah impor menaikkan harga maka tidak akan laku. Sementara buah itu sifatnya tidak dapat ditahan dalam waktu lama karena akan busuk. "Jadi harus dijual meskipun kita rugi, daripada busuk," ujarnya kepada KONTAN, Kamis (1/10).

Selama 25 tahun terkahir, tandas Khafid, baru kali ini perdagangan buah dan sayuran impor mengalami kelesuan yang amat buruk. Menurutnya, dalam kondisi sekarang, importir buah seolah berada dalam zona simalakama.

Bila buah tidak dijual ajab busuk, sementara dijual mahal tidak laku. "Ini kondisi paling buruk, kondisi yang paling tidak enak, dalam karier kami di dunia buah-buahan hampir selama 25 tahun terakhir," sesalnya.

Maka, hal yang paling mungkin dilakukan para importi buah adalah bertahan agar tidak gulung tikar. Seperti melakukan efisiensi, meminimalisir kerugian, mengurangi pasokan buah yang diimpor dan tidak melakukan ekspansi usaha. Kemudian sambil tetap berharap tahun depan, kondisi perekonomian nasional kembali membaik dan rupiah kembali menguat.

Eddy Simon, Sekretaris Aseibssindo menambahkan, kondisi sekarang ini membuat omzet para importir buah dan sayur turun 40%. Artinya para importir nyaris tidak mendapatkan keuntungan dari bisnis buah impor.

Bila dulu importir membeli 4 kontainer buah, saat ini dikurangi sekitar 2 sampai 3 kontiner saja. Volume impor dikurangi karena saat ini daya beli masyarakat masih turun. Apalagi saat ini, musim mangga lokal sudah membanjiri pasar-pasar buah dalam negeri, akibatnya buah impor tidak dilirik. "Kalau sudah kondisinya seperti ini, paling melakukan efisiensi dan mengurangi karyawan," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News