KONTAN.CO.ID - JAKARTA . Pergantian jajaran direksi di Indonesia Investment Authority mulai memicu perhatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan investasi lembaga pengelola investasi negara tersebut. Transisi kepemimpinan dinilai akan menjadi penentu penting bagi strategi investasi INA ke depan, termasuk potensi penguatan sinergi dengan lembaga investasi BUMN. INA memastikan proses pergantian pimpinan masih berjalan sesuai prosedur internal dan tata kelola yang berlaku. Manajemen meminta publik menunggu pengumuman resmi terkait susunan direksi baru.
Vice President of Communications INA Putri Dianita Ruswaldi menegaskan tidak ada informasi yang ditutupi dalam proses transisi tersebut. "Mohon tunggu siaran pers resmi INA dalam waktu dekat. Akan diumumkan, tidak ada yang ditutup-tutupi," ujarnya kepada KONTAN, kemarin.
Baca Juga: RMK Energy (RMKE) Ganti Direksi, Volume Jasa Logistik ditarget 12,7 Juta Ton Menurut Putri, penyampaian informasi kepada publik harus mengikuti mekanisme formal internal sehingga belum seluruh detail pergantian direksi dapat disampaikan saat ini. Ia menegaskan proses transisi kepemimpinan tetap berjalan sesuai kerangka tata kelola yang berlaku di INA. Pergantian pimpinan ini juga memunculkan spekulasi mengenai penguatan hubungan INA dengan Danantara Indonesia Management. Kedua lembaga dinilai memiliki irisan fungsi dalam pengelolaan investasi dan optimalisasi aset negara. Pengamat BUMN Toto Pranoto menilai masuknya figur berlatar belakang eksekutif BUMN berpotensi diarahkan untuk mempercepat konsolidasi antar lembaga investasi negara. Langkah tersebut dinilai dapat mendukung restrukturisasi BUMN melalui skema asset recycling maupun berbagai aksi korporasi lainnya.
Baca Juga: INA Buka Suara Soal Oki Ramadhana Jadi CEO Baru, Independensi Jadi Sorotan Meski demikian, Toto mengingatkan agar perubahan kepemimpinan tidak mengganggu independensi INA yang selama ini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor global. "INA harus menjaga independensi dan tata kelola agar kepercayaan investor bisa tetap terjaga," kata Toto. Sejumlah nama pun mulai beredar mengisi kursi pimpinan INA. Oki Ramadhana disebut akan menempati posisi Chief Executive Officer menggantikan Ridha Wirakusumah yang masa jabatannya berakhir pada Februari lalu. Selain itu, mantan Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas Laksono Widodo dikabarkan akan mengisi posisi Chief Investment Officer.
Baca Juga: Bank INA Gelar RUPS 5 Juni 2026, Bahas Private Placement hingga Perubahan Pengurus Adapun posisi Chief Risk Officer disebut akan ditempati Adhiputra Tanoyo yang sebelumnya menjabat Direktur Bank Ina Perdana. Perubahan susunan direksi ini dinilai akan menjadi ujian bagi INA dalam menjaga keseimbangan antara agenda strategis pemerintah dan kebutuhan mempertahankan kepercayaan investor asing terhadap tata kelola lembaga investasi negara tersebut. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News