Inalum bangun PLTU bareng PTBA



JAKARTA. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) akan membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara dengan kapasitas 1.000 MW atau 3 x 350 MW. Hal ini untuk mewujudkan target produksi 500.000 ton per tahun pada tahun 2019 atau awal 2020 mendatang. Saat ini produksi Inalum baru 265.000 ton per tahun.

Direktur Utama Inalum Winardi mengatakan, saat ini Inalum dan PT Bukit Asam Tbk sedang melakukan feasibility study untuk membangun PLTU Batubara di atas lahan seluas 80 hektare (ha) dekat lokasi pabrik Inalum di Kuala Tanjung, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara.

Menurut dia, nilai investasi untuk pembangunan PLTU Batubara tersebut baru bisa ditentukan setelah studi kelayakan dituntaskan. Sebab peralatan seperti turbin dan genset memiliki harga yang bervariasi. "Produksi Jepang, Eropa dan China. China saja macam-macam, ada KW-1 nya," ujar Winardi kepada KONTAN, Senin (24/11).


Namun yang pasti, sekitar 35% dari investasi pembangunan PLTU ini berasal dari kas internal. Sedangkan 65% nya dari pinjaman ataupun penerbitan obligasi. "Kami akan mencari pendanaan yang paling memungkinkan bagi Inalum," kata dia.

Winardi memastikan, pihaknya juga akan mencari produk yang terbaik untuk komponen pembangkit. Karena industri aluminium membutuhkan listrik yang stabil, jika listrik padam selama tiga jam saja, maka tanur pembakaran akan membeku, bila sudah begitu, harus dibangun tanur baru.

Setelah studi kelayakan dituntaskan, maka perusahaan baru akan menenderkan konstruksi PLTU tersebut pada kuartal II tahun 2015 nanti. Pembangunan PLTU ini akan memakan waktu selama empat tahun dan ditargetkan pada tahun 2020 nanti sudah bisa beroperasi.

Sedangkan PLTU sendiri akan dikelola oleh sebuah perusahaan joint venture antara Inalum dan PTBA. Tetapi mayoritas sahamnya dimiliki Inalum. Selain itu, tugas PTBA adalah memasok kebutuhan batubara untuk PLTU Batubara yang akan menggunakan kualitas batubara 3.000 kilo kalori per kilogram (kkal/kg) atau 4.000 kkal/kg.

Bila sudah beroperasi, nantinya, listrik yang diproduksi oleh PLTU itu akan diserap untuk kebutuhan Inalum sebanyak 700 MW. Sisanya, 300 MW akan dijual ke kawasan industri Kuala Tanjung dan kawasan industri Sei Mangkei. "Saat ini kebutuhan kawasan industri Kuala Tanjung saja sudah mencapai 100 MW," tegas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Uji Agung Santosa