KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum melihat prospek industri aluminium masih terbuka lebar seiring berkembangnya industri kendaraan listrik (
electric vehicle/EV) dan kebutuhan produk aluminium di dalam negeri. Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum Arif Haendra mengatakan, aluminium menjadi salah satu material penting dalam ekosistem baterai kendaraan listrik. Menurutnya, porsi aluminium dalam baterai EV dapat mencapai sekitar 40%, baik pada teknologi
lithium iron phosphate (LFP) maupun baterai berbasis nikel. "Jadi di dalam baterai mobil itu masih mengandung 40% aluminium. Meskipun baterainya litium atau nikel, itu tetap ada aluminiumnya," ujar Arif di Jakarta, Senin (26/10/2026) malam.
Baca Juga: Bidik Momen Nataru,Trimitra Trans Persada(BLOG) Optimalkan Kapasitas Layanan Logistik Menurut Arif, tingginya pemanfaatan aluminium untuk berbagai kebutuhan membuat prospek komoditas tersebut masih cukup cerah ke depan. Apalagi, pengembangan industri EV berpotensi menambah permintaan aluminium. "Jadi ke depan, prospek industri aluminium itu masih sangat cerah karena akan dimanfaatkan untuk kehidupan kita sehari-hari," jelasnya. Arif mengungkapkan, konsumsi aluminium di Indonesia saat ini sekitar 1,5 kilogram (kg) per kapita per tahun. Adapun total kebutuhan aluminium di pasar domestik diperkirakan mencapai sekitar 450.000 ton per tahun. Dari kebutuhan tersebut, Inalum memasok sekitar 46%-48% pasar domestik atau setara dengan 200.000-220.000 ton. Saat ini, kapasitas produksi aluminium Inalum berada di kisaran 275.000 ton per tahun. Peluang pertumbuhan permintaan aluminium juga sejalan dengan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. Inalum bersama PT Aneka Tambang Tbk (
ANTM) merupakan pemegang saham mayoritas
Indonesia Battery Corporation (IBC), dengan kepemilikan masing-masing sebesar 33,75%. Di sisi lain, Inalum mengatakan, penguatan hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah industri mineral nasional. Indonesia dinilai memiliki peluang besar mengembangkan rantai nilai aluminium secara terintegrasi, mulai dari pengolahan bauksit menjadi alumina, kemudian aluminium, hingga produk turunan dengan nilai tambah lebih tinggi.
Baca Juga: Kejar Pasar Australia, Toyota Buka Peluang Produksi Double Cabin di Indonesia Langkah tersebut menjadi semakin penting di tengah tantangan industri global, seperti ketegangan geopolitik, transisi energi, gangguan rantai pasok, volatilitas harga komoditas, serta tuntutan terhadap aspek keberlanjutan. Sebelumnya, Inalum menargetkan produksi aluminium pada 2026 mencapai 278.000 ton-280.000 ton. Target tersebut lebih tinggi dari rencana awal sebesar 275.000 ton, meski masih di bawah realisasi produksi 2025 yang mencapai 280.082 ton. Untuk mengejar target tersebut, Inalum mengoptimalkan kapasitas fasilitas produksi eksisting. Perseroan juga menyiapkan investasi besar untuk pengembangan proyek aluminium terintegrasi. Arif sebelumnya mengungkapkan, kebutuhan belanja modal
capital expenditure (capex) untuk pembangunan smelter di Mempawah, Kalimantan Barat, diperkirakan mencapai US$ 2,5 miliar-US$ 3 miliar.
Baca Juga: Toyota Minta Stimulus Pemerintah Demi Dongkrak Daya Beli Mobil Baru Sementara itu, SGAR Fase II membutuhkan investasi sekitar US$ 900 juta-US$ 1 miliar. Inalum juga menyiapkan investasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 1,4 gigawatt (GW) dengan nilai sekitar Rp 1,7 triliun-Rp 2,2 triliun. Adapun pembangunan infrastruktur
hauling route sepanjang 64 kilometer diperkirakan membutuhkan investasi Rp 1 triliun-Rp 2 triliun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News