KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mendapat peringkat kredit internasional BBB- dengan outlook stabil dari S&P Global Ratings. Peringkat tersebut menjadi modal bagi Inalum untuk memperkuat akses pendanaan di tengah rencana ekspansi bisnis aluminium pada 2026–2029. Menurut Direktur Utama Inalum Melati Sarnita, status
investment grade menjadi dorongan bagi perusahaan untuk menjaga fundamental bisnis di tengah agenda ekspansi.
Baca Juga: IBC Siap Pasok Baterai EV Saat TKDN Naik Jadi 60% Mulai 2027 “
Investment grade ini merupakan pengakuan sekaligus tanggung jawab bagi INALUM untuk terus menjaga kinerja perusahaan secara prudent dan berkelanjutan. Di tengah agenda ekspansi dan hilirisasi, kami akan tetap menjaga pertumbuhan dengan fundamental operasional yang kuat, disiplin finansial, dan tata kelola yang baik,” ujar Melati dalam keterangan resmi, Jumat (11/9/2026).
Baca Juga: IBC Siap Pasok Baterai EV Saat TKDN Naik Jadi 60% Mulai 2027 Menurut dia, Inalum juga akan memperkuat rantai nilai aluminium nasional dari hulu hingga hilir dengan dukungan MIND ID. “Pengembangan SGAR 2 dan Smelter 2 tidak hanya meningkatkan kapasitas, tetapi juga memperkuat kemandirian bahan baku dan daya saing industri aluminium nasional,” imbuhnya. Dalam laporan yang diterbitkan 7 September 2026, S&P Global Ratings menilai posisi Inalum yang strategis di dalam Grup MIND ID serta dukungan kuat dari pemerintah melalui induk usaha menjadi faktor penting dalam profil kredit perusahaan. S&P juga melihat Inalum memiliki peran dalam pengembangan rantai nilai aluminium nasional, termasuk hilirisasi bauksit. Keterkaitan strategis dan finansial dengan MIND ID turut menjadi penopang peringkat perusahaan. Rating internasional tersebut melengkapi perbaikan peringkat domestik Inalum . Pada Agustus 2026, PEFINDO menaikkan peringkat Inalum dari idAA-/Stable menjadi idAA/Stable. Penguatan peringkat ini datang ketika Inalum tengah menyiapkan kebutuhan pendanaan untuk sejumlah proyek hilirisasi aluminium hingga 2029. Salah satu proyek yang menjadi tumpuan adalah pengembangan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) 2 dan Smelter Aluminium 2. SGAR 2 dirancang menambah kapasitas produksi alumina sekitar 1 juta ton per tahun. Sementara itu, Smelter 2 akan memiliki kapasitas produksi sekitar 600.000 ton aluminium per tahun. Dengan tambahan tersebut, kapasitas produksi aluminium primer Inalum berpotensi meningkat lebih dari tiga kali lipat dari kapasitas saat ini yang sekitar 275.000 ton per tahun.
Baca Juga: Petrokimia Gresik Perkuat Pasokan Asam Sulfat dari PTFI Inalum saat ini juga memiliki akses terhadap pasokan alumina domestik melalui PT Borneo Alumina Indonesia (BAI). Perusahaan tersebut mengoperasikan SGAR 1 di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas sekitar 1 juta ton alumina per tahun.
Selain ekspansi kapasitas, struktur biaya menjadi salah satu faktor yang mendukung profil kredit Inalum. S&P menilai perusahaan berada pada kuartil pertama kurva biaya global pada 2026. Posisi tersebut ditopang oleh penggunaan energi hidro serta integrasi bahan baku domestik. Penggunaan pembangkit listrik tenaga air juga membantu menekan emisi sekaligus menjaga efisiensi biaya produksi. S&P Global Ratings memperkirakan kondisi industri aluminium yang relatif positif dapat menopang kinerja Inalum dalam satu hingga dua tahun ke depan. Harga aluminium diproyeksikan tetap suportif di tengah ketatnya pasokan global. Sementara volume penjualan dari smelter eksisting diperkirakan turut menopang pertumbuhan EBITDA perusahaan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News