Incar kontrak baru, Logindo rights issue



JAKARTA. PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) mencari dana sekitar Rp 134,9 miliar-Rp 149,6 miliar lewat penerbitan saham baru atawa rights issue dengan penawaran umum terbatas hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Dana itu akan digunakan seluruhnya sebagai modal kerja dalam mengincar kontrak-kontrak baru di tengah tren positif harga migas.

Berdasarkan prospektus yang diterbitkan Logindo Senin (23/1) ini, perusahaan pelayaran ini akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 1,62 juta saham biasa atas nama dengan nominal Rp 25 per saham atau 63,5% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Rights issue akan ditawarkan di kisaran harga Rp 83-Rp 92 per saham.

Logindo sudah mendapatkan restu dari pemegang saham untuk menggelar aksi korporasi ini. Lalu right issue itu ditargetkan mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keungan (OJK) pada 20 Februari 2017 dan akan dicatatkan di Bursa pada 6 Maret.


Sundap Carulli Direktur Keuangan Logindo menjelaskan, tantangan bisnis perkapalan offshore masih berat tahun ini, meski tren harga migas semakin membaik. Harga yang positif itu, akan membuat utilisasi kapal naik.

Namun, persaingan tarif sewa masih sangat besar karena jumlah kapal yang sudah over supply. "Carter rate akan berat. Utilisasi bisa ditingkatkan tapi persaingan masih besar," kata Sundap kepada KONTAN, Minggu (22/1).

Untuk bisa memperoleh kontrak-kontrak anyar, Logindo harus berani bersaing lebih agresif dari sisi tarif sewa. Sementara agar bisa memenangkan persaingan maka Logindo harus rela mendapatkan margin lebih tipis sehingga jumlah kas mereka belum bisa terkerek tinggi.

Per akhir 2016, Logindo masih memiliki dana di kas sekitar US$ 4,4 juta. Menurut Sundap, jumlah ini masih cukup digunakan sebagai modal kerja dalam jangka pendek.

Namun agar bisa fokus mengembangkan bisnis mengincar kontrak-kontrak baru di tengah harga migas yang makin membaik, perusahaan ini harus mengamankan kondisi kas untuk jangka panjang.

Dia bilang, saat ini LEAD sedang mengincar beberapa proyek baru dari perusahaan migas. Ia menyebut perusahaan migas mulai melakukan aktivitas lagi. "Beberapa perusahaan seperti BP Tangguh, PHE, Medco sudah aktif lagi cari kapal setelah tahun lalu tidak ada aktivitas." tuturnya.

Sepanjang 2016 kondisi kas Logindo semakin tergerus karena kondisi bisnis yang semakin lesu. Jumlah kas mereka tergerus dari US$ 21 juta pada awal 2016 menjadi US$ 4,4 juta di akhir tahun lalu. Namun sejak September 2016, defisit yang harus mereka tanggung semakin berkurang setelah berhasil melakukan restrukturisasi utang sebesar US$ 80 juta.

Hanya, saat ini manajemen Logindo belum berani memasang target kinerja. "Kami tak mau seperti 2016 pasang prediksi tapi meleset," katanya.

Sementara dari sisi utilitas kapal, Logindo menargetkan pertumbuhan 10%-20% tahun ini seiring dengan kenaikan harga migas. Ini naik dari posisi utilitas akhir tahun lalu yang hanya mencapai 40%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini